Dua Tafsir Maulid: Teks Muhammadiyah, Konteks Nahdlatul Ulama
Miftah yusufpati
Rabu, 03 September 2025 - 04:15 WIB
Perayaan Maulid Nabi terus jadi perbincangan. NU melihatnya sebagai barokah tradisi, sementara Muhammadiyah menekankan purifikasi, menggeser ritual ke ruang edukasi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7ID-Pagi di awal Rabiul Awal, halaman pesantren di Banyuwangi sesak oleh santri bersarung, menyiapkan rebana, dan deretan nasi berkat. Di layar lain, pemuda Muhammadiyah mengisi kanal YouTube dengan podcast tentang sirah Nabi, lengkap dengan infografik minimalis. Dua dunia, dua cara mengekspresikan cinta pada Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memang selalu jadi panggung tafsir. Di satu sisi, Nahdlatul Ulama (NU) memaknainya sebagai jalinan sosial dan spiritual. Di sisi lain, Muhammadiyah menegaskan prinsip purifikasi: kembali ke teks, menolak ritual yang tak diajarkan Nabi.
Sejarawan mengungkap bahwa Maulid bukan tradisi dari zaman Rasul dan sahabat. Jalaluddin al-Suyūṭī dalam Husn al-Maqṣid mencatat, pesta Maulid pertama kali diinisiasi Dinasti Fatimiyah di Mesir, abad ke-4 Hijriah. Dari situ, ia merambat ke Irak, Syam, hingga Nusantara.
Tradisi itu pun masuk ke Jawa bersama para wali, menyatu dengan selametan dan tahlil. Di titik ini, perdebatan pun berakar: antara yang memandang Maulid sekadar budaya dengan yang menilainya bid‘ah.
Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun
Bagi Muhammadiyah, Maulid sebagai ritual ibadah adalah perkara bid‘ah. Himpunan Putusan Tarjih menyebut, ibadah harus bersandar pada Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih, Syamsul Anwar, dalam Fiqh Ibadah Muhammadiyah menulis: “Perayaan ulang tahun Nabi tak ada tuntunannya.”
Namun, Muhammadiyah tak berhenti di penolakan. Mereka menggeser fokus dari seremoni ke substansi. Momentum Maulid jadi ruang pengajian, lomba menulis sirah, hingga kampanye digital. “Yang penting teladan Nabi, bukan tanggal kelahiran,” ujar Haedar Nashir dalam bukunya Islam Berkemajuan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memang selalu jadi panggung tafsir. Di satu sisi, Nahdlatul Ulama (NU) memaknainya sebagai jalinan sosial dan spiritual. Di sisi lain, Muhammadiyah menegaskan prinsip purifikasi: kembali ke teks, menolak ritual yang tak diajarkan Nabi.
Sejarawan mengungkap bahwa Maulid bukan tradisi dari zaman Rasul dan sahabat. Jalaluddin al-Suyūṭī dalam Husn al-Maqṣid mencatat, pesta Maulid pertama kali diinisiasi Dinasti Fatimiyah di Mesir, abad ke-4 Hijriah. Dari situ, ia merambat ke Irak, Syam, hingga Nusantara.
Tradisi itu pun masuk ke Jawa bersama para wali, menyatu dengan selametan dan tahlil. Di titik ini, perdebatan pun berakar: antara yang memandang Maulid sekadar budaya dengan yang menilainya bid‘ah.
Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun
Bagi Muhammadiyah, Maulid sebagai ritual ibadah adalah perkara bid‘ah. Himpunan Putusan Tarjih menyebut, ibadah harus bersandar pada Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih, Syamsul Anwar, dalam Fiqh Ibadah Muhammadiyah menulis: “Perayaan ulang tahun Nabi tak ada tuntunannya.”
Namun, Muhammadiyah tak berhenti di penolakan. Mereka menggeser fokus dari seremoni ke substansi. Momentum Maulid jadi ruang pengajian, lomba menulis sirah, hingga kampanye digital. “Yang penting teladan Nabi, bukan tanggal kelahiran,” ujar Haedar Nashir dalam bukunya Islam Berkemajuan.