LANGIT7ID-Pagi di awal Rabiul Awal, halaman pesantren di Banyuwangi sesak oleh santri bersarung, menyiapkan rebana, dan deretan nasi berkat. Di layar lain, pemuda Muhammadiyah mengisi kanal YouTube dengan podcast tentang sirah Nabi, lengkap dengan infografik minimalis. Dua dunia, dua cara mengekspresikan cinta pada Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memang selalu jadi panggung tafsir. Di satu sisi, Nahdlatul Ulama (NU) memaknainya sebagai jalinan sosial dan spiritual. Di sisi lain, Muhammadiyah menegaskan prinsip purifikasi: kembali ke teks, menolak ritual yang tak diajarkan Nabi.
Sejarawan mengungkap bahwa Maulid bukan tradisi dari zaman Rasul dan sahabat. Jalaluddin al-Suyūṭī dalam Husn al-Maqṣid mencatat, pesta Maulid pertama kali diinisiasi Dinasti Fatimiyah di Mesir, abad ke-4 Hijriah. Dari situ, ia merambat ke Irak, Syam, hingga Nusantara.
Tradisi itu pun masuk ke Jawa bersama para wali, menyatu dengan selametan dan tahlil. Di titik ini, perdebatan pun berakar: antara yang memandang Maulid sekadar budaya dengan yang menilainya bid‘ah.
Baca juga: Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun Bagi Muhammadiyah, Maulid sebagai ritual ibadah adalah perkara bid‘ah. Himpunan Putusan Tarjih menyebut, ibadah harus bersandar pada Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih, Syamsul Anwar, dalam Fiqh Ibadah Muhammadiyah menulis: “Perayaan ulang tahun Nabi tak ada tuntunannya.”
Namun, Muhammadiyah tak berhenti di penolakan. Mereka menggeser fokus dari seremoni ke substansi. Momentum Maulid jadi ruang pengajian, lomba menulis sirah, hingga kampanye digital. “Yang penting teladan Nabi, bukan tanggal kelahiran,” ujar Haedar Nashir dalam bukunya Islam Berkemajuan.
NU dan Barokah TradisiBagi NU, Maulid bukan sekadar acara. Ia adalah wasilah menumbuhkan cinta Rasul. Pembacaan Barzanji, tahlil, dan sedekah makanan dianggap ibadah kultural. “Kalau membawa manfaat, itu baik,” kata kiai NU mengutip pandangan al-Suyūṭī yang mengategorikan Maulid sebagai *bid‘ah hasanah*.
Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat menyebut, Maulid menjadi “ritual integratif”: mengikat sosial, menggerakkan ekonomi desa, dan menjadi ruang dakwah populer. Greg Barton bahkan menilai, tradisi ini berperan melawan radikalisme dengan menjaga harmoni lokal.
Baca juga: Jutaan Rakyat Yaman Tumpah Ruah di Jalan Peringati Maulid Nabi MuhammadDi media sosial, perdebatan bid‘ah versus barokah kerap panas. Tapi di lapangan, kompromi sering terjadi. Di desa-desa Muhammadiyah, Maulid diisi pengajian tanpa rebana. Di basis NU, acara dibuat sederhana, diganti santunan anak yatim.
Generasi muda membawa perdebatan ini ke dunia maya. Aktivis Nasyiatul Aisyiyah memproduksi video edukatif bertajuk “Teladan Nabi Sepanjang Tahun”. Di kubu NU, kanal Gus Mus Channel menyiarkan Maulid live dengan iringan selawat jazz. Studi Muhammad Zuhri mencatat, kedua ormas sama-sama memanfaatkan media baru untuk memasarkan tafsir masing-masing.
Pada akhirnya, Maulid adalah cermin perbedaan metodologi: Muhammadiyah teguh pada teks, NU pada konteks. Satu menjaga kemurnian, satu menguatkan akar budaya. Di antara keduanya, umat mencari jalan tengah: menahan bid‘ah, meraih barokah.
(mif)