Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi
Miftah yusufpati
Rabu, 03 September 2025 - 05:13 WIB
Maulid Nabi di Mesir: Setidaknya ada tiga versi tentang asal mula peringatan maulid ini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sorak takbir dan lantunan selawat terdengar meriah di berbagai sudut Indonesia setiap bulan Rabiul Awal. Namun, tak banyak yang tahu bahwa tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah praktik yang langsung hadir sejak masa Rasulullah hidup. Ia memiliki akar sejarah panjang, yang menyeberangi dinasti, wilayah, dan bahkan kepentingan politik.
Sejarawan Ibn Khalikan dalam Wafayāt al-A’yān menyebut bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah (sekitar abad ke-10 Masehi). Mereka dikenal sebagai penguasa Syiah Ismailiyah yang memanfaatkan peringatan ini sebagai media penguatan legitimasi politik dan spiritual. Bahkan, Fathimiyah tak hanya memperingati kelahiran Nabi, tetapi juga hari kelahiran para imam Ahlul Bait.
“Maulid pada awalnya bernuansa politik,” tulis Abdul Hadi dalam Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Pustaka Ilmu, 2018). Menurutnya, Fathimiyah menggunakan Maulid untuk mengukuhkan klaim keturunan langsung dari Nabi.
Baca juga:Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun
Transformasi di Era Ayyubiyah dan Abbasiyah
Tradisi ini sempat meredup setelah Fathimiyah digulingkan. Namun, di masa Dinasti Ayyubiyah, Sultan Al-Malik Al-Muzhaffar kembali menghidupkan peringatan Maulid Nabi di Irak. Menurut catatan Ibn Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Sultan Al-Muzhaffar memerintahkan perayaan besar dengan jamuan makanan dan lantunan pujian kepada Nabi. Di sinilah Maulid bergeser: dari sekadar seremoni politik menjadi tradisi keagamaan bernuansa spiritual.
Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani, ulama besar abad ke-15, bahkan menilai peringatan Maulid sebagai bid’ah hasanah—inovasi yang baik—selama diisi dengan dzikir, selawat, dan pembacaan sirah Nabi (lihat Al-Hawi lil Fatawa karya Jalaluddin As-Suyuthi).
Sejarawan Ibn Khalikan dalam Wafayāt al-A’yān menyebut bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah (sekitar abad ke-10 Masehi). Mereka dikenal sebagai penguasa Syiah Ismailiyah yang memanfaatkan peringatan ini sebagai media penguatan legitimasi politik dan spiritual. Bahkan, Fathimiyah tak hanya memperingati kelahiran Nabi, tetapi juga hari kelahiran para imam Ahlul Bait.
“Maulid pada awalnya bernuansa politik,” tulis Abdul Hadi dalam Sejarah Perayaan Maulid Nabi (Pustaka Ilmu, 2018). Menurutnya, Fathimiyah menggunakan Maulid untuk mengukuhkan klaim keturunan langsung dari Nabi.
Baca juga:Memahami Agama dalam Konteks Modern: Pelajaran dari Peringatan Maulid Nabi Oleh KH Faiz Syukron Makmun
Transformasi di Era Ayyubiyah dan Abbasiyah
Tradisi ini sempat meredup setelah Fathimiyah digulingkan. Namun, di masa Dinasti Ayyubiyah, Sultan Al-Malik Al-Muzhaffar kembali menghidupkan peringatan Maulid Nabi di Irak. Menurut catatan Ibn Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Sultan Al-Muzhaffar memerintahkan perayaan besar dengan jamuan makanan dan lantunan pujian kepada Nabi. Di sinilah Maulid bergeser: dari sekadar seremoni politik menjadi tradisi keagamaan bernuansa spiritual.
Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani, ulama besar abad ke-15, bahkan menilai peringatan Maulid sebagai bid’ah hasanah—inovasi yang baik—selama diisi dengan dzikir, selawat, dan pembacaan sirah Nabi (lihat Al-Hawi lil Fatawa karya Jalaluddin As-Suyuthi).