Misteri Hari Ketujuh: Jejak Awal Muhammad di Gurun Sa’diyah
Miftah yusufpati
Kamis, 04 September 2025 - 16:00 WIB
Bayi yatim, ditolak para penyusu, akhirnya diasuh perempuan miskin. Dari gurun yang keras, lahir pribadi yang kelak mengubah wajah sejarah dunia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Hari ketujuh setelah kelahirannya, sebuah prosesi sederhana berlangsung di Makkah. Abd al-Muttalib, pemuka Quraisy sekaligus kakek bayi itu, memerintahkan penyembelihan seekor unta. Ia mengundang para pemuka Quraisy untuk makan bersama. Ketika para tamu mendengar nama bayi tersebut—Muhammad—kerutan heran muncul di wajah-wajah mereka.
“Mengapa bukan nama leluhur kita?” tanya salah seorang. Abd al-Muttalib menjawab dengan nada mantap: “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi.” Jawaban itu terdengar biasa. Namun, kelak, nama itu menjadi cahaya yang mengubah arah sejarah dunia.
Setelah prosesi hari ketujuh itu, Aminah menunggu giliran menyerahkan anaknya kepada wanita pedalaman. Bagi keluarga Quraisy, menyusukan bayi di padang pasir bukan sekadar tradisi. Itu simbol kehormatan. Anak-anak Quraisy ditempa di udara sahara yang bersih, jauh dari Mekah yang rawan wabah. Di sanalah bahasa Arab menjadi fasih, tubuh mengeras, dan jiwa bebas dari ikatan kemewahan kota.
Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi
Namun, Muhammad lahir tanpa ayah. Abdullah, suaminya, wafat ketika Aminah masih mengandung. Bagi para wanita penyusu dari kabilah Bani Sa’d—kabilah yang terkenal tangguh—bayi yatim bukan pilihan menarik. Mereka berharap hadiah dari sang ayah. Dari bayi yatim, harapan itu tipis. “Mereka mencari imbalan yang pantas,” tulis Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (1980). Karena itu, semua wanita penyusu menolak Muhammad.
Sebelum menemukan pengasuh dari pedalaman, Muhammad sempat disusui oleh Thuwaiba, budak perempuan Abu Lahab. Thuwaiba juga menyusui Hamzah. Maka, kelak, Muhammad dan Hamzah menjadi saudara sepersusuan. Sebuah detail kecil yang akan berpengaruh di kemudian hari.
Rombongan Bani Sa’d tiba di Makkah dalam musim paceklik. Mereka datang mencari bayi untuk disusui. Semua menolak Muhammad. Semua kecuali Halimah binti Abi Du’aib. Bukan karena yakin, melainkan karena terpaksa.
“Mengapa bukan nama leluhur kita?” tanya salah seorang. Abd al-Muttalib menjawab dengan nada mantap: “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi.” Jawaban itu terdengar biasa. Namun, kelak, nama itu menjadi cahaya yang mengubah arah sejarah dunia.
Setelah prosesi hari ketujuh itu, Aminah menunggu giliran menyerahkan anaknya kepada wanita pedalaman. Bagi keluarga Quraisy, menyusukan bayi di padang pasir bukan sekadar tradisi. Itu simbol kehormatan. Anak-anak Quraisy ditempa di udara sahara yang bersih, jauh dari Mekah yang rawan wabah. Di sanalah bahasa Arab menjadi fasih, tubuh mengeras, dan jiwa bebas dari ikatan kemewahan kota.
Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi
Namun, Muhammad lahir tanpa ayah. Abdullah, suaminya, wafat ketika Aminah masih mengandung. Bagi para wanita penyusu dari kabilah Bani Sa’d—kabilah yang terkenal tangguh—bayi yatim bukan pilihan menarik. Mereka berharap hadiah dari sang ayah. Dari bayi yatim, harapan itu tipis. “Mereka mencari imbalan yang pantas,” tulis Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (1980). Karena itu, semua wanita penyusu menolak Muhammad.
Sebelum menemukan pengasuh dari pedalaman, Muhammad sempat disusui oleh Thuwaiba, budak perempuan Abu Lahab. Thuwaiba juga menyusui Hamzah. Maka, kelak, Muhammad dan Hamzah menjadi saudara sepersusuan. Sebuah detail kecil yang akan berpengaruh di kemudian hari.
Rombongan Bani Sa’d tiba di Makkah dalam musim paceklik. Mereka datang mencari bayi untuk disusui. Semua menolak Muhammad. Semua kecuali Halimah binti Abi Du’aib. Bukan karena yakin, melainkan karena terpaksa.