LANGIT7.ID-Hari ketujuh setelah kelahirannya, sebuah prosesi sederhana berlangsung di Makkah. Abd al-Muttalib, pemuka Quraisy sekaligus kakek bayi itu, memerintahkan penyembelihan seekor unta. Ia mengundang para pemuka Quraisy untuk makan bersama. Ketika para tamu mendengar nama bayi tersebut—Muhammad—kerutan heran muncul di wajah-wajah mereka.
“Mengapa bukan nama leluhur kita?” tanya salah seorang. Abd al-Muttalib menjawab dengan nada mantap: “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi.” Jawaban itu terdengar biasa. Namun, kelak, nama itu menjadi cahaya yang mengubah arah sejarah dunia.
Setelah prosesi hari ketujuh itu, Aminah menunggu giliran menyerahkan anaknya kepada wanita pedalaman. Bagi keluarga Quraisy, menyusukan bayi di padang pasir bukan sekadar tradisi. Itu simbol kehormatan. Anak-anak Quraisy ditempa di udara sahara yang bersih, jauh dari Mekah yang rawan wabah. Di sanalah bahasa Arab menjadi fasih, tubuh mengeras, dan jiwa bebas dari ikatan kemewahan kota.
Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi Namun, Muhammad lahir tanpa ayah. Abdullah, suaminya, wafat ketika Aminah masih mengandung. Bagi para wanita penyusu dari kabilah Bani Sa’d—kabilah yang terkenal tangguh—bayi yatim bukan pilihan menarik. Mereka berharap hadiah dari sang ayah. Dari bayi yatim, harapan itu tipis. “Mereka mencari imbalan yang pantas,” tulis Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (1980). Karena itu, semua wanita penyusu menolak Muhammad.
Sebelum menemukan pengasuh dari pedalaman, Muhammad sempat disusui oleh Thuwaiba, budak perempuan Abu Lahab. Thuwaiba juga menyusui Hamzah. Maka, kelak, Muhammad dan Hamzah menjadi saudara sepersusuan. Sebuah detail kecil yang akan berpengaruh di kemudian hari.
Rombongan Bani Sa’d tiba di Makkah dalam musim paceklik. Mereka datang mencari bayi untuk disusui. Semua menolak Muhammad. Semua kecuali Halimah binti Abi Du’aib. Bukan karena yakin, melainkan karena terpaksa.
“Tidak senang aku pulang tanpa bayi,” kata Halimah kepada Harits, suaminya. Harits menjawab, “Mudah-mudahan Tuhan memberkahi kita.” Sebuah percakapan yang sederhana, tetapi penuh harapan.
Sejak Muhammad dipeluk Halimah, kehidupan mereka berubah. Unta yang kurus kembali gemuk. Susu berlimpah. Kambing yang lesu kembali sehat. “Tuhan memberkati semua yang ada padanya,” tulis Haekal. Riwayat Ibn Hisham dalam Sirah Nabawiyah menekankan keberkahan ini sebagai tanda awal keistimewaan Muhammad.
Baca juga: Dua Tafsir Maulid: Teks Muhammadiyah, Konteks Nahdlatul Ulama Bagi orang modern, cerita ini mungkin terdengar mistis. Tetapi bagi masyarakat Arab abad ke-6, kisah keberkahan adalah cara menjelaskan sesuatu yang tak bisa diterangkan oleh nalar biasa.
Dua Kali Hidup di Padang PasirMuhammad menghabiskan dua tahun pertama di pedalaman sebelum disapih dan dikembalikan kepada ibunya. Namun, tak lama kemudian, ia kembali lagi ke sahara atas permintaan Halimah—atau mungkin Aminah—dengan alasan agar fisiknya lebih kuat dan terhindar dari wabah Mekah. Dua tahun berikutnya, ia tumbuh dalam udara yang jernih dan kehidupan yang keras. Tidak ada ikatan kota. Tidak ada kemewahan. Tidak ada pengaruh peradaban yang bisa merusak keteguhan fisik dan mental.
Sejarawan W. Montgomery Watt menekankan pentingnya fase ini. Dalam Muhammad at Mecca (1953), ia menulis bahwa masa kanak-kanak di gurun memberi Muhammad keunggulan bahasa Arab yang kelak menjadi senjata dakwah. Hidup sederhana menanamkan daya tahan, disiplin, dan empati terhadap kaum miskin.
Di usia sekitar tiga atau empat tahun, sebuah peristiwa mengguncang keluarga Halimah. Saat bermain bersama anak-anak lain, Muhammad diduga “dibedah” oleh dua sosok berbaju putih. Saudaranya berlari pulang, pucat. “Dia dibaringkan, perutnya dibedah,” katanya. Halimah panik. Ia menemukan Muhammad berdiri dengan wajah pucat. “Aku didatangi dua orang berpakaian putih. Perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu,” ucapnya polos.
Baca juga: Jutaan Rakyat Yaman Tumpah Ruah di Jalan Peringati Maulid Nabi Muhammad Riwayat ini dikenal sebagai kisah
syarh al-shadr—pembelahan dada. Dalam tafsir klasik, peristiwa ini dimaknai simbolis: pembersihan hati dari kotoran. Haekal menulis hati-hati: ia tidak menolak riwayat, tetapi mengingatkan agar tidak dibaca secara materialistis. Ibn Ishaq, sumber awal sirah, juga menempatkan kisah ini dalam bingkai spiritual. Sebagian sarjana modern, seperti Watt, melihatnya sebagai alegori tentang kesucian karakter.
Ketakutan membuat Halimah membawa Muhammad kembali ke Makkah. Tetapi bukan hanya peristiwa itu yang membuatnya khawatir. Haekal mengutip kisah bahwa beberapa pendeta Nasrani Abyssinia pernah melihat Muhammad kecil. Mereka berkata, “Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami. Anak ini akan menjadi orang penting.” Halimah ketakutan dan cepat pulang ke Mekah. Isyarat bahwa bayi ini bukan anak biasa semakin kuat.
Dari Gurun ke Panggung DuniaKisah masa kecil ini tampak sederhana: bayi yang ditolak, perempuan miskin yang nekat, dan padang pasir yang keras. Tetapi di situlah terbentuk pribadi Muhammad. Fisik yang kuat. Bahasa yang fasih. Jiwa yang bebas. Semua berakar dari gurun.
Karen Armstrong, dalam
Muhammad: A Prophet for Our Time (2006), menulis, “Tidak ada kebesaran yang lahir tanpa kesunyian.” Gurun Bani Sa’d adalah kesunyian itu. Sebuah awal yang kelak mengguncang dua imperium: Bizantium dan Persia.
(mif)