Jejak Panjang Maulid di Makkah dan Madinah: Dari Abbasiyah ke Puritanisme Wahabi
Miftah yusufpati
Kamis, 04 September 2025 - 17:00 WIB
Maulid di Mesir. Pemerintah Saudi melarangnya, sejalan dengan ideologi resmi negara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap kali bulan Rabiul Awal datang, umat Islam di berbagai belahan dunia mengenang kelahiran Nabi Muhammad. Lantunan selawat menggema, kitab-kitab sirah dibaca, bahkan pesta rakyat digelar. Namun, jejak peringatan Maulid di Makkah dan Madinah tidak sesederhana yang dibayangkan. Sejarahnya berliku: dari kemeriahan era Abbasiyah hingga redup di bawah bayang puritanisme Wahabi.
Sejarawan klasik seperti Imam al-Maqrizi (w. 845 H) mencatat perayaan Maulid mulai populer di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah, lalu menyebar ke berbagai wilayah Islam. Namun, jejak Maulid di Hijaz baru muncul kemudian. Menurut Syamsuddin as-Sakhawi (w. 902 H) dalam Subul al-Huda, para ulama di Makkah mengadakan majelis dzikir dan qira’ah sirah Nabi pada tanggal 12 Rabiul Awal.
“Di rumah kelahiran Rasul, kami berkumpul, membaca sejarah hidup beliau, lalu berdoa bersama,” tulis Sakhawi. Tradisi ini semula bersifat privat, tanpa hingar bingar. Para jamaah datang dengan pakaian sederhana, membawa makanan kecil, dan menghabiskan malam dengan shalawat.
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menilai kegiatan ini sebagai sarana syukur atas kelahiran Nabi. Dalam fatwanya, ia menyatakan: “Maulid adalah bid’ah, tetapi bid’ah hasanah jika diisi dengan sedekah, dzikir, dan pengagungan kepada Nabi.” (Lihat: Ibnu Hajar, al-Hawi lil Fatawi).
Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi
Puncak Kemeriahan: Hijaz di Abad Pertengahan
Pada abad ke-12 Hijriah, perayaan Maulid di Makkah mencapai puncaknya. Dalam kitab Fuyudhul Haramainkarya Ali bin Tahir as-Safadi, digambarkan suasana malam Maulid di Mekkah: ribuan jamaah berkumpul di Masjidil Haram, para qari’ melantunkan syair Barzanji, dan penguasa lokal memberikan jamuan.
Sejarawan klasik seperti Imam al-Maqrizi (w. 845 H) mencatat perayaan Maulid mulai populer di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah, lalu menyebar ke berbagai wilayah Islam. Namun, jejak Maulid di Hijaz baru muncul kemudian. Menurut Syamsuddin as-Sakhawi (w. 902 H) dalam Subul al-Huda, para ulama di Makkah mengadakan majelis dzikir dan qira’ah sirah Nabi pada tanggal 12 Rabiul Awal.
“Di rumah kelahiran Rasul, kami berkumpul, membaca sejarah hidup beliau, lalu berdoa bersama,” tulis Sakhawi. Tradisi ini semula bersifat privat, tanpa hingar bingar. Para jamaah datang dengan pakaian sederhana, membawa makanan kecil, dan menghabiskan malam dengan shalawat.
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menilai kegiatan ini sebagai sarana syukur atas kelahiran Nabi. Dalam fatwanya, ia menyatakan: “Maulid adalah bid’ah, tetapi bid’ah hasanah jika diisi dengan sedekah, dzikir, dan pengagungan kepada Nabi.” (Lihat: Ibnu Hajar, al-Hawi lil Fatawi).
Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi
Puncak Kemeriahan: Hijaz di Abad Pertengahan
Pada abad ke-12 Hijriah, perayaan Maulid di Makkah mencapai puncaknya. Dalam kitab Fuyudhul Haramainkarya Ali bin Tahir as-Safadi, digambarkan suasana malam Maulid di Mekkah: ribuan jamaah berkumpul di Masjidil Haram, para qari’ melantunkan syair Barzanji, dan penguasa lokal memberikan jamuan.