home masjid

Jejak Awal Interaksi Sosial Wanita: Dari Lembah Bakkah ke Majelis Ibrahim

Sabtu, 06 September 2025 - 04:15 WIB
Narasi Hajar dan Sarah adalah fondasi awal inklusi perempuan dalam ruang sosial Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Interaksi sosial antara perempuan dan laki-laki bukanlah fenomena modern. Ia sudah tercatat sejak zaman Ibrahim as, dengan narasi yang terekam dalam Al-Qur’an, hadis, dan literatur tafsir klasik. Bagaimana peran itu dibingkai dalam norma syariat?

Riwayat Ibnu Abbas yang dikutip Imam Bukhari (Shahih Bukhari, Kitab al-Anbiya) menggambarkan sebuah momen monumental: Ibrahim as menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lembah gersang dekat Baitullah. Dalam doanya, ia memohon:

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat …"* (QS Ibrahim: 37).

Kisah berlanjut ketika rombongan Kabilah Jurhum datang. Mereka menemukan Hajar di dekat Zamzam. Dialog pun terjadi:

"Apakah engkau izinkan kami tinggal di tempat ini?" tanya mereka. Hajar menjawab tegas: "Boleh, tetapi kalian tidak berhak atas air ini." (HR Bukhari).

Baca juga: Menjaga Martabat Perempuan dalam Islam: Antara Teks Suci dan Realitas Sosial

Sejarawan Ibnu Hajar al-Asqalani menilai percakapan ini sebagai bukti keterlibatan perempuan dalam keputusan sosial. Hajar bukan hanya penjaga sumber air, tapi juga pemegang otoritas distribusi. “Hajar mengikat perjanjian sosial dengan Jurhum,” tulis Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari. Hal ini menegaskan bahwa interaksi antara perempuan dan laki-laki di ruang sosial terjadi sejak fase awal sejarah monoteisme.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya