home masjid

Perempuan di Zaman Nabi Sulaiman: Antara Takhta, Diplomasi, dan Ketundukan

Senin, 08 September 2025 - 04:15 WIB
Balqis tetap abadi, bukan karena ia kalah, melainkan karena ia memilih jalan damai. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Suara gemericik air kolam menggema di istana kaca itu. Balqis, ratu negeri Saba, tertegun. Di hadapannya, lantai yang tampak seperti permukaan air ternyata hanyalah hamparan kaca licin. Sejenak ia menyingkap kain penutup kakinya, sebelum menyadari tipu daya arsitektur istana Nabi Sulaiman. “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca,” ujar Sulaiman. Balqis pun mengaku kalah. “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam” (QS. an-Naml: 44).

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang takhta dan kekuasaan. Ia adalah fragmen yang menyingkap posisi perempuan dalam lanskap politik, budaya, dan spiritual pada masa para nabi. Balqis adalah representasi kekuatan perempuan yang tak bisa direduksi menjadi sekadar objek domestik. Dalam tradisi tafsir klasik seperti yang dikemukakan oleh al-Tabari dan al-Qurthubi, kisah Balqis kerap dijadikan rujukan untuk membahas kepemimpinan perempuan. Namun, apakah cerita ini hanya soal perempuan yang akhirnya tunduk kepada kekuasaan laki-laki, atau justru tentang rekonsiliasi kekuatan spiritual dan politik?

Baca juga: Kisah Ratu Balqis Bersimpuh: Dari Kemewahan Menuju Ketundukan

Balqis: Ratu yang Memimpin Negeri Kaya

Kitab-kitab sejarah menyebut Balqis sebagai penguasa kerajaan Saba, wilayah yang kini diyakini berada di sekitar Yaman modern. Negeri ini dikenal makmur, dengan irigasi maju berkat Bendungan Ma’rib. Balqis memimpin sebuah peradaban yang terhubung dengan perdagangan rempah dan emas. Menurut The Queen of Sheba: History, Legend and Wisdom(Deborah M. Coulter-Harris, 2013), Balqis bukan sekadar figur mitologis, melainkan simbol kepemimpinan perempuan dalam dunia Arab kuno.

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana ia menerima surat diplomatik dari Nabi Sulaiman yang memintanya tunduk kepada Allah. Surat itu dibuka dengan kalimat yang lugas: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (QS. an-Naml: 30-31). Sebagai pemimpin yang bijak, Balqis menggelar musyawarah dengan para pembesarnya. Ia menolak gegabah, tidak serta-merta mengobarkan perang, melainkan memilih jalan diplomasi.

Peneliti sejarah peradaban Islam, Prof. Mahmoud Ayoub, dalam The Qur'an and Its Interpreters(1984), menekankan bahwa keputusan Balqis untuk mendatangi Sulaiman bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi politik untuk menghindari kehancuran negerinya. Dalam perspektif ini, kepemimpinan perempuan hadir bukan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai bukti kapasitas intelektual dan keberanian mengambil keputusan strategis.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya