PPI Belanda Menolak Keras Pemfasilitasan Pejabat Saat Kunjungan ke Luar Negeri
Lusi mahgriefie
Selasa, 09 September 2025 - 09:37 WIB
Muhammad Athaya Helmi Nasution (18), mahasiswa Indonesia di Belanda yang meninggal saat dampingi kunjungan kerja pejabat di Wina, Austria. Foto: Ist
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda mengeluarkan pernyataan sikap, menyusul peristiwa meninggalnya mahasiswa Indonesia saat mendampingi kunjungan kerja pejabat di Wina, Austria. Ada delapan poin penting yang disampaikan, salah satunya, menolak keras segala bentuk permintaan maupun praktik pemfasilitasan perjalanan dinas pejabat publik oleh mahasiswa/i.
"Kami menegaskan sikap menolak keras pelibatan mahasiswa dalam praktik pemfasilitasan kunjungan pejabat publik yang berisiko, tanpa perlindungan hukum dan mekanisme yang jelas," tulis keterangan PPI Belanda, dikutip Selasa (9/9/2025)
PPI juga mengecam pihak event organizer (EO) dan koordinator Liaison Officer (LO) yang dinilai tidak sensitif terhadap kondisi Athaya saat sedang kritis.
Mahasiswa yang memiliki nama lengkap Muhammad Athaya Helmi Nasution (18), dilaporkan meninggal dunia pada Rabu 27 Agustus 2025. PPI Belanda menuding adanya indikasi penutupan informasi mengenai detail peran Athaya dalam kegiatan tersebut oleh pihak penyelenggara.
Menurut hasil otopsi forensik, Almarhum suspected seizure kemungkinan besar mengalami heatstroke (sengatan panas) berkaitan dengan kurangnya cairan dan asupan nutrisi serta kelelahan yang mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit dan kadar gula darah turun di bawah kadar normal hingga berujung stroke, setelah dari pagi hingga malam hari beraktivitas sebagai pemandu.
PPI menyampaikan, tidak ada permintaan maaf maupun pertanggungjawaban dan transparansi dari pihak EO maupun LO kepada keluarga Almarhum yang datang ke Wina untuk mengurus jenazah.
Baca juga: Mahasiswa Indonesia Meninggal Dunia Saat Memandu Kunjungan Pejabat di Austria
"Kami menegaskan sikap menolak keras pelibatan mahasiswa dalam praktik pemfasilitasan kunjungan pejabat publik yang berisiko, tanpa perlindungan hukum dan mekanisme yang jelas," tulis keterangan PPI Belanda, dikutip Selasa (9/9/2025)
PPI juga mengecam pihak event organizer (EO) dan koordinator Liaison Officer (LO) yang dinilai tidak sensitif terhadap kondisi Athaya saat sedang kritis.
Mahasiswa yang memiliki nama lengkap Muhammad Athaya Helmi Nasution (18), dilaporkan meninggal dunia pada Rabu 27 Agustus 2025. PPI Belanda menuding adanya indikasi penutupan informasi mengenai detail peran Athaya dalam kegiatan tersebut oleh pihak penyelenggara.
Menurut hasil otopsi forensik, Almarhum suspected seizure kemungkinan besar mengalami heatstroke (sengatan panas) berkaitan dengan kurangnya cairan dan asupan nutrisi serta kelelahan yang mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit dan kadar gula darah turun di bawah kadar normal hingga berujung stroke, setelah dari pagi hingga malam hari beraktivitas sebagai pemandu.
PPI menyampaikan, tidak ada permintaan maaf maupun pertanggungjawaban dan transparansi dari pihak EO maupun LO kepada keluarga Almarhum yang datang ke Wina untuk mengurus jenazah.
Baca juga: Mahasiswa Indonesia Meninggal Dunia Saat Memandu Kunjungan Pejabat di Austria