Menafsir Damai dalam Islam: Dari Salam hingga Strategi Global
Miftah yusufpati
Selasa, 09 September 2025 - 17:42 WIB
Kini, tantangannya adalah mengembalikan salam ke maknanya yang utuh: bukan sekadar ucapan, tetapi sikap. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi itu, lantunan salam terdengar di masjid-masjid dan rumah-rumah: Assalamu ‘alaikum—damai untuk Anda. Ungkapan ini bukan sekadar basa-basi sosial. Ia adalah ikon teologis yang menegaskan roh agama bernama Islam: kedamaian.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996) menyebutkan, cukup dengan memahami makna nama “Islam” seseorang akan paham bahwa ia agama yang mendambakan perdamaian. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menandai ciri seorang Muslim dengan sabda: “Siapa yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidahnya dan tangannya.” Artinya, damai bukan sekadar kondisi politik, tetapi akhlak individu.
Dalam pandangan Islam, kedamaian lahir dari konsep tauhid: Allah yang Maha Esa menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya, dan semua ciptaan-Nya serasi. “Tidak mungkin keserasian itu mengantar kepada kekacauan,” tulis Quraish Shihab. Dengan kata lain, harmoni kosmos menjadi dasar kedamaian antarmakhluk.
Baca juga: Ketika Islam dan Demokrasi Bersalaman: Musyawarah di Era Kotak Suara
Al-Qur’an menegaskan: “Kami menciptakan semua yang hidup dari air” (QS. Al-Anbiya [21]:30). Manusia pun lahir dari tanah bercampur air, melalui ayah dan ibu. Pesannya jelas: kesamaan asal-usul menuntut manusia hidup berdampingan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk lain dan alam semesta.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam The Heart of Islam(HarperCollins, 2002), yang menulis bahwa harmoni ekologis adalah bagian dari spiritualitas Islam. “Perdamaian sejati bukan hanya antara manusia, tetapi juga antara manusia dan alam,” katanya.
Perdamaian, Bukan Pasifisme
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996) menyebutkan, cukup dengan memahami makna nama “Islam” seseorang akan paham bahwa ia agama yang mendambakan perdamaian. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menandai ciri seorang Muslim dengan sabda: “Siapa yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidahnya dan tangannya.” Artinya, damai bukan sekadar kondisi politik, tetapi akhlak individu.
Dalam pandangan Islam, kedamaian lahir dari konsep tauhid: Allah yang Maha Esa menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya, dan semua ciptaan-Nya serasi. “Tidak mungkin keserasian itu mengantar kepada kekacauan,” tulis Quraish Shihab. Dengan kata lain, harmoni kosmos menjadi dasar kedamaian antarmakhluk.
Baca juga: Ketika Islam dan Demokrasi Bersalaman: Musyawarah di Era Kotak Suara
Al-Qur’an menegaskan: “Kami menciptakan semua yang hidup dari air” (QS. Al-Anbiya [21]:30). Manusia pun lahir dari tanah bercampur air, melalui ayah dan ibu. Pesannya jelas: kesamaan asal-usul menuntut manusia hidup berdampingan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk lain dan alam semesta.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam The Heart of Islam(HarperCollins, 2002), yang menulis bahwa harmoni ekologis adalah bagian dari spiritualitas Islam. “Perdamaian sejati bukan hanya antara manusia, tetapi juga antara manusia dan alam,” katanya.
Perdamaian, Bukan Pasifisme