Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Menafsir Damai dalam Islam: Dari Salam hingga Strategi Global

miftah yusufpati Selasa, 09 September 2025 - 17:42 WIB
Menafsir Damai dalam Islam: Dari Salam hingga Strategi Global
Kini, tantangannya adalah mengembalikan salam ke maknanya yang utuh: bukan sekadar ucapan, tetapi sikap. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi itu, lantunan salam terdengar di masjid-masjid dan rumah-rumah: Assalamu ‘alaikum—damai untuk Anda. Ungkapan ini bukan sekadar basa-basi sosial. Ia adalah ikon teologis yang menegaskan roh agama bernama Islam: kedamaian.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 1996) menyebutkan, cukup dengan memahami makna nama “Islam” seseorang akan paham bahwa ia agama yang mendambakan perdamaian. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menandai ciri seorang Muslim dengan sabda: “Siapa yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidahnya dan tangannya.” Artinya, damai bukan sekadar kondisi politik, tetapi akhlak individu.

Dalam pandangan Islam, kedamaian lahir dari konsep tauhid: Allah yang Maha Esa menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya, dan semua ciptaan-Nya serasi. “Tidak mungkin keserasian itu mengantar kepada kekacauan,” tulis Quraish Shihab. Dengan kata lain, harmoni kosmos menjadi dasar kedamaian antarmakhluk.

Baca juga: Ketika Islam dan Demokrasi Bersalaman: Musyawarah di Era Kotak Suara

Al-Qur’an menegaskan: “Kami menciptakan semua yang hidup dari air” (QS. Al-Anbiya [21]:30). Manusia pun lahir dari tanah bercampur air, melalui ayah dan ibu. Pesannya jelas: kesamaan asal-usul menuntut manusia hidup berdampingan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk lain dan alam semesta.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam The Heart of Islam (HarperCollins, 2002), yang menulis bahwa harmoni ekologis adalah bagian dari spiritualitas Islam. “Perdamaian sejati bukan hanya antara manusia, tetapi juga antara manusia dan alam,” katanya.

Perdamaian, Bukan Pasifisme

Namun, sejarah mencatat Islam tidak anti-perang. Al-Qur’an memerintahkan umat mempersiapkan kekuatan (QS. Al-Anfal [8]:60). Bukan untuk agresi, tetapi “menakut-nakuti mereka (yang ingin membuat kekacauan)”.

Peperangan dalam Islam hanya dibenarkan untuk menghapus penganiayaan (fitnah) dan tetap dibatasi oleh etika. Nabi melarang membunuh anak-anak, orang tua, perempuan, dan bahkan melarang merusak pepohonan.

Baca juga: Jangan Bongkar Aib Orang! Ustadz Khalid Basalamah: "Allah Bisa Buka Aib Kita di Dunia dan Akhirat"

Lebih jauh, Al-Qur’an menegaskan: “Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sambutlah kecenderungan itu” (QS. Al-Anfal [8]:61). Ayat ini, menurut pakar hukum Islam Wahbah al-Zuhayli dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Dar al-Fikr, 1985), menjadi landasan hukum internasional dalam perspektif Islam.

Namun, mengapa Islam kerap diasosiasikan dengan konflik? Sejarawan Karen Armstrong dalam Fields of Blood: Religion and the History of Violence (Knopf, 2014) mencatat bahwa agama, termasuk Islam, sering ditarik ke arena politik kekuasaan. “Perang jarang murni agama. Biasanya ada motif ekonomi, politik, dan identitas,” tulisnya.

Dalam konteks modern, isu jihad kerap dimaknai sempit sebagai perang, padahal ulama klasik seperti Al-Ghazali menempatkan jihad terbesar sebagai perjuangan melawan hawa nafsu (jihad al-nafs).

Pesan Damai di Era Global

Di era globalisasi yang sarat konflik identitas, ide dasar Islam tentang damai kembali relevan. Prinsip “salam” seharusnya menjadi etika sosial dan diplomasi global. Quraish Shihab menekankan konsep fiqh prioritas—mendahulukan maslahat dan menghindari kerusakan. “Perdamaian adalah pilihan pertama, perang hanyalah opsi terakhir,” tulisnya.

Bahkan, resolusi damai yang ditawarkan Islam tidak hanya normatif, tetapi operasional: dari penghentian peperangan, rekonsiliasi sosial, hingga pengelolaan konflik ekologis. Dalam Islam and Peacebuilding (Abu-Nimer, 2003), disebutkan bahwa pendekatan Islam berbasis keadilan dan kasih sayang (rahmah) mampu membangun perdamaian berkelanjutan.

Kini, tantangannya adalah mengembalikan salam ke maknanya yang utuh: bukan sekadar ucapan, tetapi sikap. Di tengah dunia yang porak-poranda oleh kekerasan, pesan ini seperti oase: Assalamu ‘alaikum. Damai untuk Anda, damai untuk semua.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)