Islam dan Kehidupan Modern: Menjaga Orbit di Tengah Perubahan Zaman
Miftah yusufpati
Rabu, 10 September 2025 - 05:45 WIB
Modernitas bergerak cepat, tetapi orbit prinsip Islam tak perlu patah. Tauhid tetap pusat gravitasi, mengatur keseimbangan ilmu, iman, etika, dan akhlak. Ilustrasi: Istock
LANGIT7.ID-Di ruang-ruang publik, Islam kerap ditarik-tarik ke medan debat: apakah ia sanggup berdialog dengan modernitas? Pertanyaan ini, sesungguhnya, bukan baru. Seabad silam, Syaikh Muhammad Abduh sudah mengeluh, “Al-Islam mahjub bil muslimin” bahwa keindahan Islam tertutupi perilaku sebagian pemeluknya.
Abduh, pembaharu Mesir yang wafat 1905, melihat jurang antara ajaran murni Islam dan praktik umatnya. Ia yakin, jika teks-teks suci dipahami sesuai spiritnya, Islam justru kompatibel dengan perkembangan zaman. Pemikiran itu kini kembali relevan, di tengah kegaduhan yang menuduh Islam anti-modernitas.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996) menjelaskan prinsip utama Islam: tauhid. Ia ibarat matahari yang dikelilingi planet-planet: kesatuan alam, kesatuan kehidupan, kesatuan ilmu, kesatuan iman dan rasio, kesatuan agama, kesatuan kepribadian, hingga kesatuan individu dan masyarakat. Prinsip ini membentuk arsitektur pemikiran Islam yang mengharmonikan dimensi spiritual dan material.
Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani
“Islam tidak mengajarkan dualisme yang memisahkan dunia dan akhirat,” tulis Quraish. Dalam pandangan ini, kesuksesan ukhrawi terkait erat dengan amal duniawi. Dunia bukan lawan akhirat, melainkan ladang amal.
Kesatuan ilmu juga menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara sains dan agama. “Semua berasal dari satu sumber, Allah SWT,” kata Quraish. Ini sejalan dengan tradisi ilmiah Islam klasik yang melahirkan Ibnu Sina, al-Farabi, dan al-Khawarizmi.
Ilmu, Rasio, dan Ruang Kreatif Modernitas
Abduh, pembaharu Mesir yang wafat 1905, melihat jurang antara ajaran murni Islam dan praktik umatnya. Ia yakin, jika teks-teks suci dipahami sesuai spiritnya, Islam justru kompatibel dengan perkembangan zaman. Pemikiran itu kini kembali relevan, di tengah kegaduhan yang menuduh Islam anti-modernitas.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an(Mizan, 1996) menjelaskan prinsip utama Islam: tauhid. Ia ibarat matahari yang dikelilingi planet-planet: kesatuan alam, kesatuan kehidupan, kesatuan ilmu, kesatuan iman dan rasio, kesatuan agama, kesatuan kepribadian, hingga kesatuan individu dan masyarakat. Prinsip ini membentuk arsitektur pemikiran Islam yang mengharmonikan dimensi spiritual dan material.
Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani
“Islam tidak mengajarkan dualisme yang memisahkan dunia dan akhirat,” tulis Quraish. Dalam pandangan ini, kesuksesan ukhrawi terkait erat dengan amal duniawi. Dunia bukan lawan akhirat, melainkan ladang amal.
Kesatuan ilmu juga menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara sains dan agama. “Semua berasal dari satu sumber, Allah SWT,” kata Quraish. Ini sejalan dengan tradisi ilmiah Islam klasik yang melahirkan Ibnu Sina, al-Farabi, dan al-Khawarizmi.
Ilmu, Rasio, dan Ruang Kreatif Modernitas