Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Islam dan Kehidupan Modern: Menjaga Orbit di Tengah Perubahan Zaman

miftah yusufpati Rabu, 10 September 2025 - 05:45 WIB
Islam dan Kehidupan Modern: Menjaga Orbit di Tengah Perubahan Zaman
Modernitas bergerak cepat, tetapi orbit prinsip Islam tak perlu patah. Tauhid tetap pusat gravitasi, mengatur keseimbangan ilmu, iman, etika, dan akhlak. Ilustrasi: Istock
LANGIT7.ID-Di ruang-ruang publik, Islam kerap ditarik-tarik ke medan debat: apakah ia sanggup berdialog dengan modernitas? Pertanyaan ini, sesungguhnya, bukan baru. Seabad silam, Syaikh Muhammad Abduh sudah mengeluh, “Al-Islam mahjub bil muslimin” bahwa keindahan Islam tertutupi perilaku sebagian pemeluknya.

Abduh, pembaharu Mesir yang wafat 1905, melihat jurang antara ajaran murni Islam dan praktik umatnya. Ia yakin, jika teks-teks suci dipahami sesuai spiritnya, Islam justru kompatibel dengan perkembangan zaman. Pemikiran itu kini kembali relevan, di tengah kegaduhan yang menuduh Islam anti-modernitas.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 1996) menjelaskan prinsip utama Islam: tauhid. Ia ibarat matahari yang dikelilingi planet-planet: kesatuan alam, kesatuan kehidupan, kesatuan ilmu, kesatuan iman dan rasio, kesatuan agama, kesatuan kepribadian, hingga kesatuan individu dan masyarakat. Prinsip ini membentuk arsitektur pemikiran Islam yang mengharmonikan dimensi spiritual dan material.

Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani

“Islam tidak mengajarkan dualisme yang memisahkan dunia dan akhirat,” tulis Quraish. Dalam pandangan ini, kesuksesan ukhrawi terkait erat dengan amal duniawi. Dunia bukan lawan akhirat, melainkan ladang amal.

Kesatuan ilmu juga menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara sains dan agama. “Semua berasal dari satu sumber, Allah SWT,” kata Quraish. Ini sejalan dengan tradisi ilmiah Islam klasik yang melahirkan Ibnu Sina, al-Farabi, dan al-Khawarizmi.

Ilmu, Rasio, dan Ruang Kreatif Modernitas

Al-Qur’an justru mendorong akal untuk bekerja. QS al-Nahl (16):125 mengajak manusia berdialog dengan hikmah. Nabi Muhammad sendiri mengingatkan, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” Hadis ini, menurut ulama, membuka ruang ijtihad dalam soal sosial, ekonomi, hingga teknologi.

Karena itu, Islam tidak menolak inovasi. Ia hanya memberi pagar agar kebebasan tidak melahirkan kesewenang-wenangan. Prinsip ini kontras dengan sekularisme ekstrem yang menyingkirkan agama dari ruang publik, dan juga berbeda dari fundamentalisme yang memusuhi perubahan.

Modernitas membawa kemewahan dan kesenangan, sesuatu yang tidak diharamkan Islam. Harta bahkan disebut khair (kebaikan) dalam Al-Qur’an. Namun ada syarat: diperoleh dan dipakai dengan cara yang benar. QS al-Hasyr (59):9 menekankan sikap altruistik: “Mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Baca juga: 750 Ayat Kauniyah: Al-Quran Tidak Sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan

Konsep ini menohok pandangan liberalisme Barat yang berbunyi, “Anda boleh melakukan apa saja selama tidak merugikan orang lain.” Islam melangkah lebih jauh: rela berkorban demi kepentingan bersama. Quraish Shihab menulis, hak asasi manusia dalam Islam selalu terkait kewajiban sosial.

Di titik ini, umat Islam ditempatkan sebagai *ummatan wasathan* (umat pertengahan)—tidak larut dalam spiritualisme, tapi juga tidak hanyut dalam materialisme. Muslim modern idealnya bukan malaikat yang abai pada dunia, dan bukan binatang yang tunduk pada naluri.

Kebebasan seksual yang jadi simbol sebagian budaya modern juga disikapi Islam dengan prinsip keseimbangan. Hubungan biologis diakui sebagai fitrah, tetapi harus dinaungi akad nikah. “Kamu mengawini mereka (istri-istrimu) berdasarkan amanat Allah,” sabda Nabi (HR Muslim). Pernikahan, menurut Quraish, bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ikatan spiritual yang melibatkan Tuhan.

Dengan prinsip-prinsip ini, Islam menyebut dirinya shalih li kulli zaman wa makan—selalu relevan untuk setiap waktu dan tempat. Modernitas bukan ancaman, sepanjang ia dibaca dalam kerangka nilai ilahiah.

Baca juga: Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan: Sifat Penemuan Ilmiah

Sayangnya, wajah Islam sering tampil keras karena perilaku sebagian umat yang gagal menyeimbangkan. Ketika agama dipersempit menjadi simbol, bukan substansi, yang lahir adalah konflik. Persis seperti keluhan Abduh seabad lalu.

Modernitas bergerak cepat, tetapi orbit prinsip Islam tak perlu patah. Tauhid tetap pusat gravitasi, mengatur keseimbangan ilmu, iman, etika, dan akhlak. Pertanyaannya: sanggupkah umat menjaga orbit ini di tengah turbulensi zaman?

Sejarah memberi jawab: bukan ajarannya yang kaku, melainkan cara pemeluknya membaca teks. Selama Al-Qur’an dipahami dengan nalar dan hati, Islam akan terus hadir sebagai rahmat di dunia modern—bukan bayangan masa lalu yang membeku, tetapi cahaya yang menuntun masa depan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)