Marat Safin: Tenis, Hedonistik, hingga Sufistik
Garry Talentedo Kesawa
Senin, 22 November 2021 - 20:07 WIB
Marat Safin. (foto: instagram/ @iamsafinmarat)
Sebagian besar masyarakat dunia pasti mengenal siapa Marat Safin. Ya, dia adalah seorang mantan petenis tunggal asal Rusia. Saat aktif bermain, ia termasuk dalam jajaran papan atas atau elite tunggal putra petenis dunia.
Marat Safin terkenal karena tubuhnya besar, atletis, kontroversial, hidup, dan gaya mainnya yang kuat dan agresif. Ia juga termasuk salah satu pemain yang sangat disukai karena rasa humornya yang tinggi.
Selama karirnya, pemilik nama lengkap Marat Mubinovich Safin itu tercatat pernah meraih trofi Grand Slam di US Open 2000 dan Australia Open 2005. Petenis nomor satu dunia tahun 2000 itu juga membantu Rusia menjuarai Piala Davis 2002 dan 2006.
Safin lahir 27 Januari 1980 di Moskow, sebagai etnis Tatar muslim. Di kampung halamannya, Nizhny Novgorod, Safin dibesarkan dengan tradisi Islam yang amat kuat oleh kedua orang tuanya.
Meski begitu, Safin pernah jauh dari kehidupan sebagai seorang muslim. Hal itu dialaminya ketika menikmati masa kejayaan di dunia tenis pada tahun 2000-an.
Hidupnya begitu glamor dan hedonistik, dengan ditemani wanita-wanita muda nan cantik yang tak pernah jauh dari kehidupannya. Wajar saja, Safin memang pernah menjadi idola bagi kaum hawa.
Hal tersebut lantas membuatnya larut dalam kenikmatan dunia. Bahkan, ia pernah dicap sebagai 'binatang' buas dari pesta ke pesta.
Marat Safin terkenal karena tubuhnya besar, atletis, kontroversial, hidup, dan gaya mainnya yang kuat dan agresif. Ia juga termasuk salah satu pemain yang sangat disukai karena rasa humornya yang tinggi.
Selama karirnya, pemilik nama lengkap Marat Mubinovich Safin itu tercatat pernah meraih trofi Grand Slam di US Open 2000 dan Australia Open 2005. Petenis nomor satu dunia tahun 2000 itu juga membantu Rusia menjuarai Piala Davis 2002 dan 2006.
Safin lahir 27 Januari 1980 di Moskow, sebagai etnis Tatar muslim. Di kampung halamannya, Nizhny Novgorod, Safin dibesarkan dengan tradisi Islam yang amat kuat oleh kedua orang tuanya.
Meski begitu, Safin pernah jauh dari kehidupan sebagai seorang muslim. Hal itu dialaminya ketika menikmati masa kejayaan di dunia tenis pada tahun 2000-an.
Hidupnya begitu glamor dan hedonistik, dengan ditemani wanita-wanita muda nan cantik yang tak pernah jauh dari kehidupannya. Wajar saja, Safin memang pernah menjadi idola bagi kaum hawa.
Hal tersebut lantas membuatnya larut dalam kenikmatan dunia. Bahkan, ia pernah dicap sebagai 'binatang' buas dari pesta ke pesta.