LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagian besar masyarakat dunia pasti mengenal siapa Marat Safin. Ya, dia adalah seorang mantan petenis tunggal asal Rusia. Saat aktif bermain, ia termasuk dalam jajaran papan atas atau elite tunggal putra petenis dunia.
Marat Safin terkenal karena tubuhnya besar, atletis, kontroversial, hidup, dan gaya mainnya yang kuat dan agresif. Ia juga termasuk salah satu pemain yang sangat disukai karena rasa humornya yang tinggi.
Selama karirnya, pemilik nama lengkap Marat Mubinovich Safin itu tercatat pernah meraih trofi Grand Slam di US Open 2000 dan Australia Open 2005. Petenis nomor satu dunia tahun 2000 itu juga membantu Rusia menjuarai Piala Davis 2002 dan 2006.
Safin lahir 27 Januari 1980 di Moskow, sebagai etnis Tatar muslim. Di kampung halamannya, Nizhny Novgorod, Safin dibesarkan dengan tradisi Islam yang amat kuat oleh kedua orang tuanya.
Meski begitu, Safin pernah jauh dari kehidupan sebagai seorang muslim. Hal itu dialaminya ketika menikmati masa kejayaan di dunia tenis pada tahun 2000-an.
Hidupnya begitu glamor dan hedonistik, dengan ditemani wanita-wanita muda nan cantik yang tak pernah jauh dari kehidupannya. Wajar saja, Safin memang pernah menjadi idola bagi kaum hawa.
Hal tersebut lantas membuatnya larut dalam kenikmatan dunia. Bahkan, ia pernah dicap sebagai 'binatang' buas dari pesta ke pesta.
Di dalam lapangan pun, Safin jauh dari nilai-nilai Islam. Ia memiliki sikap tempramental dan acapkali mempertontonkan kontroversi dalam pertandingan yang dimainkannya.
Salah satu aksi safin yang mungkin masih kita ingat ialah dia sering membanting dan merusak raket ketika sedang marah atau frustrasi saat bertanding, khususnya saat kehilangan poin.
Pada tahun 2005, Safin pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa karakter temperamental itu karena darah muslim Tatar yang mewarisinya.
Baca juga:
Kristiane Baker, Ikon Dunia Hiburan Barat Temukan Kedamaian bersama Islam"Anda tidak bisa melawan genetik. Saya adalah orang Rusia, tapi saya 100 persen muslim. Seluruh muslim begitu bersemangat dan kukuh. Kami berdarah panas," kata Safin kepada USA Today seperti dikutip dari RFEL.
Namun, pada tahun 2009, kehidupan Safin berubah drastis sejak memutuskan untuk pensiun dari cabang olahraga yang telah membesarkan namanya tersebut. Ia kerap mengalami kekosongan batin dalam hidup dan merasa seperti jauh dari akar kehidupannya sejak kecil sebagai seorang muslim yang taat.
Safin mulai menghadiri peringatan Hari Raya Islam, seperti Idul Adha dengan mengenakan pakaian tradisional Tatar, Tubetey, di kampung halamannya. Kembali ke akar tradisi bagi Safin merupakan salah satu obat penyembuh atas kekosongan hati.
Safin memutuskan untuk kembali ke komunitas muslim Tatar di kampung halamannya dan kerap hadir di setiap masjid saat hari raya umat muslim di Rusia. Langkah ini menjadi modal positif baginya untuk terjun ke dunia politik.
Berbekal modal tersebut, Safin mampu meraup suara dari kalangan Islam di Rusia dalam politik praktis. Pada 2011, ia bergabung bersama Partai Rusia Bersatu yang dinahkodai Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin.
Dengan dukungan dari kalangan etnis Tatar, khususnya muslim, Safin terpilih menjadi salah satu anggota Duma Rusia selama lima tahun. Selama itu juga, Safin telah memperjuangkan hak-hak etnis Tatar dan kaum muslim di Rusia.
Hal itu yang kemudian membuat namanya menjadi salah satu tokoh Islam berpengaruh di Rusia.
Pada tahun 2016, Safin meletakkan jabatannya dan belum memikirkan untuk terjun kembali ke dunia politik. Ia mengaku ingin fokus melatih batinnya ke jalan sufistik.
"Saya sudah pensiun (dari dunia politik) dua tahun lalu. Mungkin suatu saat (akan kembali). Namun, sekarang saya istirahat dahulu," ujar Safin dikutip dari Tennis World USA.
(sof)