home masjid

Ruang Publik yang Cair: Kisah Perempuan dalam Perayaan Islam Awal

Senin, 15 September 2025 - 04:15 WIB
Kebebasan perempuan berpartisipasi dalam perayaan umum adalah bagian dari tahrir al-marah atau pembebasan perempuan di masa risalah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Riuh pesta perkawinan itu masih terdengar di Madinah abad ke-7. Sejumlah perempuan dan anak-anak keluar dari rumah pengantin, berbaur dalam kebahagiaan. Nabi Muhammad, yang kebetulan lewat, berhenti sejenak. “Ya Allah, mereka termasuk orang-orang yang paling aku senangi,” sabdanya, tiga kali diulang. Riwayat ini dicatat oleh Anas bin Malik dan kemudian diriwayatkan Imam Bukhari serta Muslim.

Kisah sederhana itu menjadi gambaran: keikutsertaan perempuan dalam perayaan umum bukan hal asing di masa Rasulullah. Ia hadir bukan sekadar simbol, melainkan bagian utuh dari dinamika sosial masyarakat Muslim awal.

Bagi masyarakat Arab kuno, perayaan perkawinan lazimnya hanya dimonopoli laki-laki. Namun, catatan sejarah menunjukkan ada pergeseran ketika Islam datang. Sahal bin Sa’ad, misalnya, meriwayatkan bahwa saat Abu Usaid as-Sa’idi menikah, justru sang istri—Ummu Usaid—yang menyiapkan dan menghidangkan makanan. Nabi Muhammad, tamu agung kala itu, bahkan diberi minuman kurma rendaman yang khusus dibuat oleh Ummu Usaid. “Perempuan bukan hanya hadir, tapi berperan,” tulis Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Kebebasan Wanita di Masa Risalah (Gema Insani, 1998).

Baca juga: Perempuan di Saf Ibadah: Keikutsertaan dalam Ritual Jamaah Sejak Zaman Nabi

Hari Raya: Dari Pingitan ke Lapangan

Catatan sahabat perempuan Nabi juga memperkaya narasi. Athiyyah al-Ansariyah menuturkan bagaimana Rasul memerintahkan seluruh perempuan keluar rumah saat Idulfitri dan Iduladha, termasuk gadis perawan yang biasanya dipingit, bahkan perempuan yang sedang haid. Mereka memang tidak ikut salat, tetapi tetap berdiri di belakang jamaah, bertakbir, berdoa, dan mendengar khutbah. “Supaya mereka bisa menyaksikan kebaikan dan mendengarkan seruan orang-orang beriman,” kata Athiyyah, sebagaimana diriwayatkan Bukhari-Muslim.

Aisyah, istri Nabi, bahkan pernah diajak menonton atraksi pasukan Habasyah (Ethiopia) yang bermain tombak di halaman masjid. “Apakah engkau ingin melihatnya?” tanya Nabi. Aisyah mengangguk. Ia pun berdiri di belakang suaminya, pipi menempel pada pipi. Bagi sejarawan Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (University of Texas Press, 2002), kisah ini bukan sekadar romantisme domestik, tetapi penegasan bahwa ruang publik juga milik perempuan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya