Perang Besar di Medan Pikiran: Membaca Ulang Gagasan Yusuf al-Qardhawi
Miftah yusufpati
Senin, 15 September 2025 - 14:50 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID-“Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya sendiri bengkok?”—bait seorang penyair Arab kuno itu kerap dikutip Syaikh Yusuf al-Qardhawi untuk menjelaskan satu hal: mustahil perbuatan umat bisa lurus bila cara berpikirnya masih bengkok.
Dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), ulama kelahiran Mesir itu menekankan bahwa pelurusan pemikiran harus menjadi prioritas perjuangan Islam, bahkan lebih utama ketimbang gerakan fisik atau politik. “Pertarungan pemikiran yakni meluruskan ide yang menyimpang dan konsep yang tidak benar digolongkan sebagai perang besar,” tulisnya, merujuk pada al-Qur’an surat al-Furqan.
Qardhawi membagi medan perang pemikiran ke dalam dua lingkaran. Pertama, melawan tantangan luar: ateisme, orientalisme, hingga warisan kolonial yang memerangi aqidah dan budaya Islam. Kedua, pertempuran internal: meluruskan praktik beragama agar tak melenceng dari tujuan syariat.
Bagi Qardhawi, justru lingkaran kedua ini yang paling mendesak. “Perbaikan secara internal merupakan dasar yang harus diberi prioritas,” tulisnya. Tanpa basis pemikiran sehat, umat mudah terseret dalam arus: dari khurafat, taqlid, hingga politik instan.
Baca juga: Hukum Bunga Bank Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi
Empat Arus
Dalam kerangka besar itu, Qaradawi mengidentifikasi empat arus pemikiran yang mengitari umat Islam.
Dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), ulama kelahiran Mesir itu menekankan bahwa pelurusan pemikiran harus menjadi prioritas perjuangan Islam, bahkan lebih utama ketimbang gerakan fisik atau politik. “Pertarungan pemikiran yakni meluruskan ide yang menyimpang dan konsep yang tidak benar digolongkan sebagai perang besar,” tulisnya, merujuk pada al-Qur’an surat al-Furqan.
Qardhawi membagi medan perang pemikiran ke dalam dua lingkaran. Pertama, melawan tantangan luar: ateisme, orientalisme, hingga warisan kolonial yang memerangi aqidah dan budaya Islam. Kedua, pertempuran internal: meluruskan praktik beragama agar tak melenceng dari tujuan syariat.
Bagi Qardhawi, justru lingkaran kedua ini yang paling mendesak. “Perbaikan secara internal merupakan dasar yang harus diberi prioritas,” tulisnya. Tanpa basis pemikiran sehat, umat mudah terseret dalam arus: dari khurafat, taqlid, hingga politik instan.
Baca juga: Hukum Bunga Bank Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi
Empat Arus
Dalam kerangka besar itu, Qaradawi mengidentifikasi empat arus pemikiran yang mengitari umat Islam.