Jejak Perempuan dalam Pelayanan Sosial: Dari Madinah ke Jakarta
Miftah yusufpati
Selasa, 16 September 2025 - 16:00 WIB
Hadis sahabiyah menyingkap peran perempuan sejak awal Islam: membuka rumah bagi tamu, merawat sahabat sakit, hingga berbagi pakaian. Ilustrasi: Ilustrasi
LANGIT7.ID-Di tengah perdebatan publik tentang peran perempuan dalam ruang sosial dan politik, ada baiknya kita menoleh ke sejarah awal Islam. Catatan hadis menunjukkan betapa aktifnya para sahabiyah Nabi Muhammad dalam urusan sosial, mulai dari memberi jamuan, menyumbangkan harta, hingga merawat orang sakit.
Abdul Wahid bin Aiman meriwayatkan bahwa Aisyah r.a. pernah mengenakan pakaian katun sederhana seharga lima dirham. Namun, pakaian itu justru menjadi simbol berbagi, karena pada masa Rasulullah, baju itu sering dipinjam oleh perempuan Madinah untuk berhias pada pesta. “Coba lihat pembantuku itu,” kata Aisyah, “ia enggan mengenakan baju ini di rumah. Padahal dahulu baju ini sering dipakai bergantian.” (HR. Bukhari).
Hadis itu bukan sekadar catatan keseharian, melainkan simbol kolaborasi sosial: perempuan ikut hadir dalam perayaan, menyediakan fasilitas bersama, dan menjembatani relasi antarwarga.
Kisah serupa datang dari Ummu Syauraik, perempuan kaya dari kalangan Anshar. Ia terkenal dermawan, membelanjakan hartanya demi kepentingan agama Allah, dan rumahnya kerap menjadi persinggahan tamu. “Rumahnya sering sekali disinggahi,” tulis Fathimah binti Qais dalam riwayat Muslim.
Narasi ini menyingkap bagaimana perempuan tak hanya bergerak di ranah domestik, melainkan menjadi simpul sosial. Rumah menjadi ruang publik; dapur menjadi arena diplomasi; dan jamuan menjadi bagian dari pelayanan umat.
Tidak berhenti di situ, Ummul Ala meriwayatkan bahwa Utsman bin Mazh’un, salah satu sahabat Nabi, pernah sakit dan dirawat hingga wafat di rumahnya (HR. Bukhari). Dalam peran itu, perempuan tampil sebagai perawat, pelayan kemanusiaan, dan penyedia layanan sosial, jauh sebelum lahirnya profesi medis modern.
Baca juga: Ruang Publik yang Cair: Kisah Perempuan dalam Perayaan Islam Awal
Abdul Wahid bin Aiman meriwayatkan bahwa Aisyah r.a. pernah mengenakan pakaian katun sederhana seharga lima dirham. Namun, pakaian itu justru menjadi simbol berbagi, karena pada masa Rasulullah, baju itu sering dipinjam oleh perempuan Madinah untuk berhias pada pesta. “Coba lihat pembantuku itu,” kata Aisyah, “ia enggan mengenakan baju ini di rumah. Padahal dahulu baju ini sering dipakai bergantian.” (HR. Bukhari).
Hadis itu bukan sekadar catatan keseharian, melainkan simbol kolaborasi sosial: perempuan ikut hadir dalam perayaan, menyediakan fasilitas bersama, dan menjembatani relasi antarwarga.
Kisah serupa datang dari Ummu Syauraik, perempuan kaya dari kalangan Anshar. Ia terkenal dermawan, membelanjakan hartanya demi kepentingan agama Allah, dan rumahnya kerap menjadi persinggahan tamu. “Rumahnya sering sekali disinggahi,” tulis Fathimah binti Qais dalam riwayat Muslim.
Narasi ini menyingkap bagaimana perempuan tak hanya bergerak di ranah domestik, melainkan menjadi simpul sosial. Rumah menjadi ruang publik; dapur menjadi arena diplomasi; dan jamuan menjadi bagian dari pelayanan umat.
Tidak berhenti di situ, Ummul Ala meriwayatkan bahwa Utsman bin Mazh’un, salah satu sahabat Nabi, pernah sakit dan dirawat hingga wafat di rumahnya (HR. Bukhari). Dalam peran itu, perempuan tampil sebagai perawat, pelayan kemanusiaan, dan penyedia layanan sosial, jauh sebelum lahirnya profesi medis modern.
Baca juga: Ruang Publik yang Cair: Kisah Perempuan dalam Perayaan Islam Awal