Pencerahan Timur: Warisan Suhrawardi untuk Dunia Modern
Miftah yusufpati
Jum'at, 19 September 2025 - 05:45 WIB
Dibunuh di Aleppo, warisan filsafat Suhrawardi justru bergaung hingga kini: menyeimbangkan sains dan spiritualitas dalam pencarian makna hidup. Ilustrasi: AI
LANGT7.ID- Lebih dari delapan abad lalu, Syekh Syahabuddin Suhrawardi menggagas filsafat yang berporos pada cahaya. Bagi sebagian orang, filsafat filsuf Persia yang meninggal muda di Aleppo tahun 1191 ini dianggap sekadar elaborasi metafisik. Namun dalam perspektif yang lebih luas, pemikirannya merepresentasikan pergulatan panjang dunia Islam dalam menyatukan akal, intuisi, dan pengalaman spiritual. Pertanyaan besarnya: mengapa pemikiran seorang intelektual abad pertengahan ini masih penting bagi dunia sekarang?
Dalam Ḥikmat al-Ishrâq (Filsafat Pencerahan), Suhrawardi memaknai realitas sebagai hierarki cahaya. Konsep ini bukan hanya metafor religius, tetapi juga kritik terhadap pendekatan rasionalistik murni ala Avicenna. Pengetahuan tertinggi, menurutnya, tidak dicapai dengan silogisme semata, melainkan melalui “pengetahuan hadir”. Pengalaman langsung terhadap realitas.
Interpretasinya ini membuka perdebatan besar: Apakah akal cukup untuk memahami kebenaran, ataukah manusia butuh pengalaman batin? Dalam masyarakat modern yang dikuasai data, algoritma, dan kecerdasan buatan, pertanyaan ini kembali terasa relevan.
Baca juga: Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi
Jejak kontroversi, gema hingga kini
Suhrawardi mendapat julukan al-Maqtūl (“yang dibunuh”), diduga karena gagasan-gagasannya dipandang mengancam ortodoksi agama dan politik pada masanya. Namun ironisnya, justru dari kematiannya lahir pengaruh intelektual yang panjang: dari Mulla Ṣadra di era Safawi hingga diskusi filsafat modern tentang epistemologi intuitif.
Kontroversi itu menegaskan bahwa setiap gagasan baru seringkali menghadapi resistensi. Dalam konteks kontemporer, Suhrawardi dapat dipandang sebagai simbol bagaimana pemikiran alternatif — meskipun dibungkam secara politik — tetap menemukan ruang hidup dalam diskursus intelektual.
Dalam Ḥikmat al-Ishrâq (Filsafat Pencerahan), Suhrawardi memaknai realitas sebagai hierarki cahaya. Konsep ini bukan hanya metafor religius, tetapi juga kritik terhadap pendekatan rasionalistik murni ala Avicenna. Pengetahuan tertinggi, menurutnya, tidak dicapai dengan silogisme semata, melainkan melalui “pengetahuan hadir”. Pengalaman langsung terhadap realitas.
Interpretasinya ini membuka perdebatan besar: Apakah akal cukup untuk memahami kebenaran, ataukah manusia butuh pengalaman batin? Dalam masyarakat modern yang dikuasai data, algoritma, dan kecerdasan buatan, pertanyaan ini kembali terasa relevan.
Baca juga: Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi
Jejak kontroversi, gema hingga kini
Suhrawardi mendapat julukan al-Maqtūl (“yang dibunuh”), diduga karena gagasan-gagasannya dipandang mengancam ortodoksi agama dan politik pada masanya. Namun ironisnya, justru dari kematiannya lahir pengaruh intelektual yang panjang: dari Mulla Ṣadra di era Safawi hingga diskusi filsafat modern tentang epistemologi intuitif.
Kontroversi itu menegaskan bahwa setiap gagasan baru seringkali menghadapi resistensi. Dalam konteks kontemporer, Suhrawardi dapat dipandang sebagai simbol bagaimana pemikiran alternatif — meskipun dibungkam secara politik — tetap menemukan ruang hidup dalam diskursus intelektual.