Kolom Fiqih Sosial: Adu outfit mahasiswa dan perhatian agama
Fathor rohman, m.ag
Jum'at, 26 September 2025 - 08:47 WIB
Kolom Fiqih Sosial: Adu outfit mahasiswa dan perhatian agama
LANGIT7.ID-Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB)tahun 2025 dilaksanakan pada bulan september-oktober, kegiatan tersebut menjadi salah satu ajang kampus untuk menyambut dan membekali mahasiswa baru dalam memasuki dunia kampus. ini merupakan langkah awal transisi menuju kehidupan perkuliahan yang menuntut proses adaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial.
Mahasiswa/i merupakan lanjutan pendidikan dari tingkat SMA/SMK/MA kepada jenjang selanjutnya, secara keseluruhan fungsi mahasiswa sangatlah luas mereka menjadi agen perubahan, kontrol sosial, pelindung nilai, inovator ilmu pengetahuan, dan calon pemimpin masa depan. Peran yang besar ini tentu harus di dukung demgan kemampuan dan pengatahuan yang kuat, sehingga ia benar-benar menjadi jalan keluar menjadi pemimpin bangsa yang akan datang.
Namun belakangan ini media justru menyoroti sisi yang lain dari mahasisiwa/i yaitu tren outfit, jenis komunikasi yang digunakan dan perilaku Mahasiswa/i, setidaknya ada beberapa fenomena yang muncul di kalangan mahasiswa/i yang cenderung berpakaian mewah bak seperti ibu pejabat atau anak para elit bangsa, ada juga yang mengendarai mobil mewah seperti milider dan yang paling sering terlihat adalah perilaku yang urakan (bahasa milenial) dan nir moral, serta jenis komunikasi yang digunakan seperti anjay, ngab (bang), ambyar, gabut, gercep, halu, mager mantul, santuy, kepo, pansos, sabi dan woles tentu tidak semua mahasiswa/i yang seperti itu.
ada yang menilai mahasiswa/i hari ini tidak mampu menjadi pioner sebagai daya dobrak untuk merestorasi terhadap kebuntuan negeri ini, banyak tentunya kritikan yang dialamatkan kepada mahasiswa/i yang sedang asik dengan dunianya, kadangkala ia terlena dengan label kemahasiswaannya yang bebas dan dengan gayanya sendiri.
Kecendrungan adu outfit dan paling bergaya
Tren outfit di Indonesia sendiri telah berkembang pesat karena di dukung dengan media sosial, role model entertainment, dunia bisnis, dan bahkan internet. Dengan adanya pergantian tren fashion setiap tahun atau bulan selalu mengalami perubahan-perubahan, hal ini mengakibatkan beberapa mahasiswa/i menjadi konsumtif akan kebutuhan sandang berupa outfit.
Menurut salah satu survei YouGov mengatakan bahwa, setidaknya orang membung satu item pakaian pertahun sebesar 66 Persen, dan membuang 10 item pakaian pertahun sebanyak 25 persen. Hal ini juga berdasarkan Aliansi Mode Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyatakan bahwa industri fashion global menghasilkan sampai 10% dari total emisi karbon dunia yang berkontribusi terhadap pergantian iklim. Dampak dari efek tren mode tidak hanya terjadi pada lingkungan melainkani juga kesehatan.
Mahasiswa/i merupakan lanjutan pendidikan dari tingkat SMA/SMK/MA kepada jenjang selanjutnya, secara keseluruhan fungsi mahasiswa sangatlah luas mereka menjadi agen perubahan, kontrol sosial, pelindung nilai, inovator ilmu pengetahuan, dan calon pemimpin masa depan. Peran yang besar ini tentu harus di dukung demgan kemampuan dan pengatahuan yang kuat, sehingga ia benar-benar menjadi jalan keluar menjadi pemimpin bangsa yang akan datang.
Namun belakangan ini media justru menyoroti sisi yang lain dari mahasisiwa/i yaitu tren outfit, jenis komunikasi yang digunakan dan perilaku Mahasiswa/i, setidaknya ada beberapa fenomena yang muncul di kalangan mahasiswa/i yang cenderung berpakaian mewah bak seperti ibu pejabat atau anak para elit bangsa, ada juga yang mengendarai mobil mewah seperti milider dan yang paling sering terlihat adalah perilaku yang urakan (bahasa milenial) dan nir moral, serta jenis komunikasi yang digunakan seperti anjay, ngab (bang), ambyar, gabut, gercep, halu, mager mantul, santuy, kepo, pansos, sabi dan woles tentu tidak semua mahasiswa/i yang seperti itu.
ada yang menilai mahasiswa/i hari ini tidak mampu menjadi pioner sebagai daya dobrak untuk merestorasi terhadap kebuntuan negeri ini, banyak tentunya kritikan yang dialamatkan kepada mahasiswa/i yang sedang asik dengan dunianya, kadangkala ia terlena dengan label kemahasiswaannya yang bebas dan dengan gayanya sendiri.
Kecendrungan adu outfit dan paling bergaya
Tren outfit di Indonesia sendiri telah berkembang pesat karena di dukung dengan media sosial, role model entertainment, dunia bisnis, dan bahkan internet. Dengan adanya pergantian tren fashion setiap tahun atau bulan selalu mengalami perubahan-perubahan, hal ini mengakibatkan beberapa mahasiswa/i menjadi konsumtif akan kebutuhan sandang berupa outfit.
Menurut salah satu survei YouGov mengatakan bahwa, setidaknya orang membung satu item pakaian pertahun sebesar 66 Persen, dan membuang 10 item pakaian pertahun sebanyak 25 persen. Hal ini juga berdasarkan Aliansi Mode Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyatakan bahwa industri fashion global menghasilkan sampai 10% dari total emisi karbon dunia yang berkontribusi terhadap pergantian iklim. Dampak dari efek tren mode tidak hanya terjadi pada lingkungan melainkani juga kesehatan.