Credit Scoring Jadi Penentu Masa Depan Finansial, Aggi Nauval Ingatkan Risiko Galbay di P2P Lending
Nabil
Rabu, 01 Oktober 2025 - 16:58 WIB
Credit Scoring Jadi Penentu Masa Depan Finansial, Aggi Nauval Ingatkan Risiko Galbay di P2P Lending
LANGIT7.ID-Jakarta;Lonjakan kasus gagal bayar (galbay) di layanan pinjaman online atau peer to peer (P2P) lending menjadi perhatian serius. CEO Cloudun Technology Pte. Ltd sekaligus pengurus Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, Aggi Nauval Guntur Surapati, menegaskan bahwa credit scoring kini menjadi faktor kunci yang menentukan reputasi dan masa depan finansial seseorang.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat akses pinjaman menjadi sangat mudah, cukup dengan KTP dan nomor telepon. Namun, kemudahan tersebut tidak diiringi dengan literasi keuangan yang memadai. Akibatnya, banyak orang meminjam tanpa memperhitungkan kemampuan untuk membayar, sehingga kasus rekening macet melonjak hingga ratusan ribu.
Credit scoring, kata Aggi, hadir sebagai sistem untuk menilai kelayakan debitur. Bank dan lembaga keuangan menggunakan pendekatan klasik yang dikenal dengan 5C, yaitu character, capacity, cash, condition, dan collateral. Saat ini, sistem tradisional seperti SLIK OJK mulai dilengkapi dengan metode alternatif yang disebut PKA, yaitu penggunaan data non-keuangan seperti NIK, nomor telepon, hingga perilaku belanja di e-commerce.
Baca juga: IARFC: Jangan Tergoda Jasa Hapus Utang Galbay Pinjol, Itu Penipuan
“Jejak digital tidak akan hilang. Tidak ada jalan pintas untuk memperbaiki skor kredit selain menghadapi kewajiban dan menyelesaikan restrukturisasi dengan lembaga keuangan,” ujar Aggi dalam acara media gathering di Aroem Mahakam Resto, Rabu (1/10/2025).
Ia menjelaskan, perilaku konsumtif menjadi salah satu penyebab utama menurunnya skor kredit. Banyak pinjaman dipakai untuk kebutuhan konsumtif dan belanja impulsif, bukan untuk hal produktif. Tren ini terutama terlihat di kalangan generasi muda, yang sering terjebak pada gaya hidup instan dengan memanfaatkan pinjaman digital.
Selain berdampak pada kemampuan meminjam kembali, credit scoring juga akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk peluang kerja, akses layanan keuangan, hingga reputasi sosial. Aggi menekankan pentingnya menjaga pola perilaku finansial maupun digital agar tetap sehat dan terkendali.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat akses pinjaman menjadi sangat mudah, cukup dengan KTP dan nomor telepon. Namun, kemudahan tersebut tidak diiringi dengan literasi keuangan yang memadai. Akibatnya, banyak orang meminjam tanpa memperhitungkan kemampuan untuk membayar, sehingga kasus rekening macet melonjak hingga ratusan ribu.
Credit scoring, kata Aggi, hadir sebagai sistem untuk menilai kelayakan debitur. Bank dan lembaga keuangan menggunakan pendekatan klasik yang dikenal dengan 5C, yaitu character, capacity, cash, condition, dan collateral. Saat ini, sistem tradisional seperti SLIK OJK mulai dilengkapi dengan metode alternatif yang disebut PKA, yaitu penggunaan data non-keuangan seperti NIK, nomor telepon, hingga perilaku belanja di e-commerce.
Baca juga: IARFC: Jangan Tergoda Jasa Hapus Utang Galbay Pinjol, Itu Penipuan
“Jejak digital tidak akan hilang. Tidak ada jalan pintas untuk memperbaiki skor kredit selain menghadapi kewajiban dan menyelesaikan restrukturisasi dengan lembaga keuangan,” ujar Aggi dalam acara media gathering di Aroem Mahakam Resto, Rabu (1/10/2025).
Ia menjelaskan, perilaku konsumtif menjadi salah satu penyebab utama menurunnya skor kredit. Banyak pinjaman dipakai untuk kebutuhan konsumtif dan belanja impulsif, bukan untuk hal produktif. Tren ini terutama terlihat di kalangan generasi muda, yang sering terjebak pada gaya hidup instan dengan memanfaatkan pinjaman digital.
Selain berdampak pada kemampuan meminjam kembali, credit scoring juga akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk peluang kerja, akses layanan keuangan, hingga reputasi sosial. Aggi menekankan pentingnya menjaga pola perilaku finansial maupun digital agar tetap sehat dan terkendali.