Pangeran Diponegoro: Ketika Jihad Bertemu Zikir
Miftah yusufpati
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Diponegoro bukan hanya panglima perang, tapi sufi yang menulis doa di pengasingan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tepi Laut Makassar, seorang tua berwajah teduh menatap ke barat. Rambutnya memutih, jubahnya lusuh. Di pengasingan, Pangeran Diponegoro menulis catatan panjang tentang doa, perang, dan penyesalan. Ia tidak lagi memimpin ribuan pengikut, melainkan berdialog dengan Tuhan lewat tinta dan zikir.
Dalam buku hariannya yang kini tersimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), Leiden, tercatat bait-bait doa yang menyinggung ajaran Syattariyyah dan Naqsyabandiyyah—dua tarekat besar yang membentuk spiritualitas Islam Jawa abad ke-19. Michael Laffan (2015) menulis, “Kita tidak boleh berasumsi bahwa jihad adalah monopoli Wahhabi… catatan Diponegoro menunjukkan kedekatan dengan ajaran sufi.”
Diponegoro bukan sekadar pangeran pemberontak. Ia adalah simbol dari pertemuan pelik antara mistisisme Islam dan perlawanan politik terhadap kolonialisme.
Jantung Islam yang Bergolak
Ketika Perang Padri berkecamuk di Sumatra Barat, Jawa pun bergolak. Tahun 1825, Pangeran Diponegoro—putra Sultan Hamengkubuwono III—mengangkat panji jihad melawan Belanda dan istana Yogyakarta yang telah tunduk pada kekuasaan kolonial.
Laffan menggambarkan konteks sosialnya: “Setelah Perjanjian Giyanti 1755, pedesaan Jawa relatif damai. Populasi tumbuh, pendidikan meningkat, dan para guru agama mendambakan status perdikan.” Namun harmoni itu pecah ketika sistem pajak pertanian dan intervensi Belanda menekan masyarakat.
“Diponegoro mempersonifikasikan kegelisahan moral orang Jawa terhadap ketidakadilan kolonial,” tulis Peter Carey dalam The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 (Leiden: KITLV Press, 2011). “Ia melihat tanah leluhurnya dicemari kekuasaan asing dan istana yang korup.”
Dalam buku hariannya yang kini tersimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), Leiden, tercatat bait-bait doa yang menyinggung ajaran Syattariyyah dan Naqsyabandiyyah—dua tarekat besar yang membentuk spiritualitas Islam Jawa abad ke-19. Michael Laffan (2015) menulis, “Kita tidak boleh berasumsi bahwa jihad adalah monopoli Wahhabi… catatan Diponegoro menunjukkan kedekatan dengan ajaran sufi.”
Diponegoro bukan sekadar pangeran pemberontak. Ia adalah simbol dari pertemuan pelik antara mistisisme Islam dan perlawanan politik terhadap kolonialisme.
Jantung Islam yang Bergolak
Ketika Perang Padri berkecamuk di Sumatra Barat, Jawa pun bergolak. Tahun 1825, Pangeran Diponegoro—putra Sultan Hamengkubuwono III—mengangkat panji jihad melawan Belanda dan istana Yogyakarta yang telah tunduk pada kekuasaan kolonial.
Laffan menggambarkan konteks sosialnya: “Setelah Perjanjian Giyanti 1755, pedesaan Jawa relatif damai. Populasi tumbuh, pendidikan meningkat, dan para guru agama mendambakan status perdikan.” Namun harmoni itu pecah ketika sistem pajak pertanian dan intervensi Belanda menekan masyarakat.
“Diponegoro mempersonifikasikan kegelisahan moral orang Jawa terhadap ketidakadilan kolonial,” tulis Peter Carey dalam The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 (Leiden: KITLV Press, 2011). “Ia melihat tanah leluhurnya dicemari kekuasaan asing dan istana yang korup.”