home masjid

Pertarungan Wacana dan Percetakan di Tanah Suci membentuk arah Islam Nusantara

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Pertikaian antara Sulayman dan Khalil Pasha adalah cermin dari politik wacana Islam global. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada penghujung 1883, di tengah riuh Mekah yang padat oleh para peziarah dan pelajar dari berbagai negeri Islam, sebuah fatwa keras mengguncang kalangan tarekat. Dikeluarkan oleh Syekh Ahmad Dahlan**, guru besar yang disegani di Masjidil Haram, fatwa itu menuntut agar ajaran **Sulayman Afandi**—seorang tokoh Khalidiyyah Naqsyabandiyyah—**dihapus dari muka bumi “dengan cara apa pun”**.

Fatwa tersebut, sebagaimana dicatat sejarawan Michael Laffan dalam bukunya The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011), bukan sekadar perkara doktrin. Ia mencerminkan perang otoritas di jantung Mekah, yang gema dan percetakannya kelak memantul jauh hingga ke pesisir Sumatra dan Jawa.

Pertanyaan tentang ajaran Sulayman mula-mula datang dari Gubernur Utsmani di Hijaz. Dahlan menjawab tegas: pamflet Sulayman dianggap menghina sesama ulama dan melecehkan tarekat-tarekat lain. Salah satu bait Sulayman yang terkenal menyindir keras rival-rivalnya:

“Seperti orang jangak mereka menari,

padahal seperti keledai mereka berbunyi.

Mengira diri di jalan penuh restu,

dibanding peragu pun mereka lebih keliru.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya