Panduan Al-Qur’an dalam Menyusun Kurikulum Pesantren
Muhajirin
Rabu, 14 Juli 2021 - 10:00 WIB
Ustadz Adi Hidayat dalam wisuda santri Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep (foto: al-amien.ac.id)
Dai kondang sekaligus pendiri Quantum Akhyar Institute Ustadz Adi Hidayat menjelaskan kiat-kiat dari Al-Qur’an dalam membuat kurikulum pesantren. Beliau menekankan bahwa pesantren merupakan tempat kaderisasi ulama, sehingga untuk membangun karakter rabbani wajib bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Ulama dalam Al-Qur’an memiliki dua ciri utama. Dari dua ciri itu akan menghasilkan definisi ulama. Pertama, ulama disifati oleh Alquran sebagai hamba Allah yang istimewa, memiliki sifat khasyah lillah atau takut kepada Allah SWT. Sifat ini disebutkan dalam surah Al-Fatir ayat 28. Allah SWT berfirman:
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.”
“Pesantren yang ingin menyediakan kader ulama, maka hal ini yang perlu dibagun dalam kurikulum,” kata Ustadz Adi Hidayat dalam webinar Pesantren Muhammadiyah sebagai Pusat Kaderisasi Ulama yang disiarkan akun Youtube tvMu Channel.
Beliau menegaskan, strategi pesantren dalam membentuk sifat khasyah lillah atau takut kepada Allah itu harus kembali kepada Al-Qur’an. Itu harus menjadi kurikulum, kemudian kurikulum itu memiliki turunan tata-cara membentuk santri agar memiliki sifat khasyah.
“Di dalam Al-Qur’an sifat khasyah ini selalu terkait erat dengan sifat takwa. Implementasi takwa itu adalah amal saleh. Kalau kita bikin persamaan, khasyah = takwa = amal saleh. Misalnya bagaimana orang tua diminta untuk mendidik anak memiliki sifat khasyah agar bertakwa supaya bisa beramal saleh, ini dijelaskan dalam Quran surah keempat ayat kesembilan,” papar Ustadz Adi Hidayat.
Jika ingin membentuk ulama berkarakter khasyah, pesantren harus mendidik santri untuk menguatkan amal saleh yang akan membentuk karakteristik mereka di kemudian hari. Untuk mewujudkan karakter itu dalam kurikulum, pendidik di pesantren pertama kali harus menelaah kata takwa dalam Al Quran. Kata takwa kurang lebih disebutkan 115 kali dalam kitab suci.
Ulama dalam Al-Qur’an memiliki dua ciri utama. Dari dua ciri itu akan menghasilkan definisi ulama. Pertama, ulama disifati oleh Alquran sebagai hamba Allah yang istimewa, memiliki sifat khasyah lillah atau takut kepada Allah SWT. Sifat ini disebutkan dalam surah Al-Fatir ayat 28. Allah SWT berfirman:
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.”
“Pesantren yang ingin menyediakan kader ulama, maka hal ini yang perlu dibagun dalam kurikulum,” kata Ustadz Adi Hidayat dalam webinar Pesantren Muhammadiyah sebagai Pusat Kaderisasi Ulama yang disiarkan akun Youtube tvMu Channel.
Beliau menegaskan, strategi pesantren dalam membentuk sifat khasyah lillah atau takut kepada Allah itu harus kembali kepada Al-Qur’an. Itu harus menjadi kurikulum, kemudian kurikulum itu memiliki turunan tata-cara membentuk santri agar memiliki sifat khasyah.
“Di dalam Al-Qur’an sifat khasyah ini selalu terkait erat dengan sifat takwa. Implementasi takwa itu adalah amal saleh. Kalau kita bikin persamaan, khasyah = takwa = amal saleh. Misalnya bagaimana orang tua diminta untuk mendidik anak memiliki sifat khasyah agar bertakwa supaya bisa beramal saleh, ini dijelaskan dalam Quran surah keempat ayat kesembilan,” papar Ustadz Adi Hidayat.
Jika ingin membentuk ulama berkarakter khasyah, pesantren harus mendidik santri untuk menguatkan amal saleh yang akan membentuk karakteristik mereka di kemudian hari. Untuk mewujudkan karakter itu dalam kurikulum, pendidik di pesantren pertama kali harus menelaah kata takwa dalam Al Quran. Kata takwa kurang lebih disebutkan 115 kali dalam kitab suci.