home masjid

Ukhuwah: Persaudaraan yang Menumbangkan Tembok Sosial

Senin, 13 Oktober 2025 - 16:30 WIB
Dalam ukhuwah, tiada ruang bagi keangkuhan status. Setiap manusia saudara, tanpa kasta dan tanpa mahkota. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di Madinah empat belas abad lalu, sebuah revolusi sosial pernah meletus tanpa pedang dan darah. Rasulullah ﷺ menyebutnya dengan satu kata yang sederhana tapi subversif: ukhuwah — persaudaraan. Dalam konsep itu, tidak ada kasta, tidak ada garis keturunan yang membuat satu manusia lebih tinggi dari lainnya.

Dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Malaamihu Al-Mujtama’ Al-Muslim Alladzi Nasyuduh, Syaikh Yusuf al-Qaradawi, 1997), ulama besar asal Mesir itu menulis:

“Ukhuwah dalam Islam meliputi seluruh golongan masyarakat. Tidak boleh harta, kedudukan, nasab, atau status sosial menjadi penyebab sombongnya sebagian manusia atas sebagian yang lain.”

Jika membaca hadis-hadis Nabi, semangat persaudaraan itu bukan romantisme spiritual. Ia konkret, sosial, bahkan politis. Rasulullah bersabda:

“Sebaik-baik pemimpin kamu adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu; kamu mendoakan mereka dan mereka pun mendoakanmu. Dan seburuk-buruk pemimpinmu adalah yang kamu benci dan mereka pun membencimu.” (HR Muslim).

Pesan itu terasa sederhana, namun di situ terkandung relasi egaliter antara rakyat dan pemimpin. Seorang hakim, kata Qardhawi, adalah saudara rakyat — bukan penguasa atasnya. Persaudaraan ini menegaskan bahwa Islam menolak hirarki sosial yang menindas.

Bahkan dalam urusan majikan dan pekerja, Nabi memerintahkan kesetaraan moral:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya