Tuntunan Shalat Menurut Rasulullah, Diutamakan Berjamaah
Ahmad zuhdi
Kamis, 07 Oktober 2021 - 18:05 WIB
Tuntunan shalat menurut Rasulullah. (Foto: Antara).
Tuntunan shalat menurut Rasulullah harus menjadi acuan ummat Islam dalam beribadah. Mulai dari gerakan, bacaan, waktu hingga cara mengerjakannya yakni berjamaah.
Shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di akhirat kelak. Shalat juga dapat dijadikan barometer amal-amal yang lain, bahkan baik buruknya seseorang mencerminkan ibadah rutin shalat 5 waktunya.
Khalifah Umar bin Khatab diriwayatkan pernah mengirim surat kepada para gubernur yang diangkatnya, dia berpesan: "Sesungguhnya tugas kalian sebagai gubernur yang paling utama di mataku ialah shalat. Barang siapa memelihara shalat, berarti ia telah memelihara agamanya, Barang siapa lalai terhadap shalat, terhadap urusan yang lain akan lebih lalai".
Baca Juga: Tata Cara Shalat Berjamaah Sesuai Sunnah dan Ajaran Nabi
Shalat yang baik dan benar dijanjikan Allah dan Rasul-Nya akan menjadi penghapus atas segala dosanya. Allah berfirman: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk." (QS Hud: 114).
Dalam sebuah dialog dengan para sahabatnya, Nabi shalallahu alaihi wasallam mengumpamakan shalat lima waktu seperti mandi lima kali. "Nabi SAW bertanya, "Bagaimana pandanganmu jika di pintu rumah salah seorang di antara kamu ada sumur, lalu mandi sehari lima kali, bagaimanakah kotoran di badan orang itu?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan tersisa kotoran itu sedikit pun." Nabi Saw. bersabda: "Demikian juga perumpamaan shalat yang lima waktu, Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya." (HR. Bukhari).
Namun, mandi yang bagaimana yang akan mampu membersihkan kotoran di badan itu? Jika mandinya tidak bersabun, tidak menggosok-gosok badan, bahkan airnya diobok-obok, dibuat keruh, tentu bukan membersihkan kotoran, malah membuat tubuh semakin kotor.
Shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di akhirat kelak. Shalat juga dapat dijadikan barometer amal-amal yang lain, bahkan baik buruknya seseorang mencerminkan ibadah rutin shalat 5 waktunya.
Khalifah Umar bin Khatab diriwayatkan pernah mengirim surat kepada para gubernur yang diangkatnya, dia berpesan: "Sesungguhnya tugas kalian sebagai gubernur yang paling utama di mataku ialah shalat. Barang siapa memelihara shalat, berarti ia telah memelihara agamanya, Barang siapa lalai terhadap shalat, terhadap urusan yang lain akan lebih lalai".
Baca Juga: Tata Cara Shalat Berjamaah Sesuai Sunnah dan Ajaran Nabi
Shalat yang baik dan benar dijanjikan Allah dan Rasul-Nya akan menjadi penghapus atas segala dosanya. Allah berfirman: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk." (QS Hud: 114).
Dalam sebuah dialog dengan para sahabatnya, Nabi shalallahu alaihi wasallam mengumpamakan shalat lima waktu seperti mandi lima kali. "Nabi SAW bertanya, "Bagaimana pandanganmu jika di pintu rumah salah seorang di antara kamu ada sumur, lalu mandi sehari lima kali, bagaimanakah kotoran di badan orang itu?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan tersisa kotoran itu sedikit pun." Nabi Saw. bersabda: "Demikian juga perumpamaan shalat yang lima waktu, Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya." (HR. Bukhari).
Namun, mandi yang bagaimana yang akan mampu membersihkan kotoran di badan itu? Jika mandinya tidak bersabun, tidak menggosok-gosok badan, bahkan airnya diobok-obok, dibuat keruh, tentu bukan membersihkan kotoran, malah membuat tubuh semakin kotor.