home masjid

Snouck Sebagai Wedana: Dari Pengamat Menjadi Pengendali Narasi Islam di Hindia Belanda

Selasa, 28 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Snouck Hurgronje. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Pada awal 1890-an, di sela-sela penyelidikannya tentang pemberontakan Aceh, Christiaan Snouck Hurgronje memerankan dua sosok yang kontras: di satu sisi, seorang orientalis Belanda yang menulis dengan kecermatan akademis; di sisi lain, seorang wedana — pejabat pribumi imajiner — yang berbicara seolah mewakili suara lokal. Dalam surat-surat berseri yang ia tulis untuk koran progresif De Locomotief (1891–1892), Snouck mencoba menampilkan dirinya bukan sekadar peneliti, tapi “orang dalam” yang paham denyut Islam di tanah jajahan.

Namun di balik narasi lembut dan gaya tutur simpatik itu, Snouck sedang membangun proyek yang lebih besar: menafsirkan Islam Nusantara agar bisa dikendalikan oleh kolonialisme Belanda. Seperti dicatat Budhy Munawar-Rachman dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Yayasan Paramadina, 1994), Snouck bukan hanya antropolog lapangan, melainkan juga “arsitek politik etis” yang menggunakan ilmu sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Snouck mengawali proyek ini dengan meniru gaya Poensen, misionaris yang menulis kisah-kisah kehidupan desa dengan rasa iba kolonial. Tapi berbeda dari Poensen, Snouck menempatkan dirinya “di atas orang desa”—bukan sebagai teman, melainkan pengawas. Melalui sosok wedana, ia menulis tentang kehidupan orang Jawa “mulai ayunan hingga pondok”, menggambarkan ritus kelahiran, pernikahan, hingga keintiman spiritual di pesantren.

Nada narasinya lembut tapi paternalistik. Islam digambarkan sebagai dunia yang “penuh ruh dan intuisi”, sedangkan Barat tampil sebagai rasional dan modern. “Kebijaksanaan intuitif orang-orang lokal terlalu sering diabaikan oleh para mandor Eropa yang kasar,” tulisnya—sebuah kritik halus terhadap kolonialisme yang justru menguatkan peran dirinya sebagai pengamat yang paling “adil”.

Namun, seperti diungkap Karel Steenbrink dalam Dutch Colonialism and Indonesian Islam (Brill, 1993), sikap simpatik Snouck kerap menutupi ambisi pengendalian. Ia bukan sekadar memahami masyarakat Muslim Jawa, tetapi juga ingin mengetahui “bagaimana Islam bisa dikendalikan tanpa menimbulkan perlawanan.”

Santri, Tarekat, dan Kecurigaan Kolonial

Dalam surat-suratnya, wedana Snouck mencatat perubahan zaman: semakin banyak santri, semakin banyak doa berbahasa Arab, dan meningkatnya pengaruh haji dan orang Arab. “Haji dan orang Arab masih menjadi momok menakutkan,” tulisnya, tapi di sisi lain, orang Jawa justru bercita-cita mengirim anak-anak mereka ke pesantren.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya