home masjid

Ketika Doa Tak Sekadar Kata: Menyelami Adab dan Etika Munajat

Rabu, 29 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Dalam ajaran Islam, do menuntut adab: niat yang jernih, hati yang hadir, dan keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Taala agar mustajab. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID — Di tengah derasnya modernitas dan kecenderungan spiritualitas instan, doa sering kali berubah menjadi rutinitas verbal—diserukan tanpa ruh, dibaca tanpa rasa. Padahal, dalam khazanah Islam klasik, doa (الدُّعَاء) bukan sekadar permohonan, melainkan pertemuan batin antara hamba dan Tuhannya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafimenulis, “Doa adalah senjata orang beriman.” Namun senjata itu tak akan tajam bila tidak ditempa dengan adab. Dalam pandangan para ulama, adab berdoa bukan hanya soal etika lahiriah, tetapi juga kesiapan batin yang menuntut keikhlasan, keyakinan, dan kesungguhan.

Tulisan ini merujuk pada pandangan ulama yang dikutip dalam Ensiklopedi Islam yang menegaskan: “Barang siapa menggantungkan hajatnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.”

Niat, Wudhu, dan Telapak Tangan yang Menengadah

Adab pertama, kata para ulama, adalah menata niat. Doa sejati lahir dari kesadaran untuk beribadah, bukan sekadar meminta. Setelah itu, bersuci menjadi tanda penghormatan terhadap momen spiritual tersebut.

Rasulullah ﷺ memberi petunjuk sederhana:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya