Menbud Fadli Zon dan Pemkab Siak Kolaborasi Lestarikan Warisan Budaya Melayu
Tim langit 7
Selasa, 04 November 2025 - 17:08 WIB
Menbud Fadli Zon dan Pemkab Siak Kolaborasi Lestarikan Warisan Budaya Melayu
LANGIT7.ID–Jakarta;Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menerima kunjungan kerja Bupati Siak, Afni Zulkifli, di Gedung Kementerian Kebudayaan. Pertemuan tersebut membahas upaya pelestarian serta revitalisasi peninggalan sejarah dan kebudayaan Melayu di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Menbud Fadli Zon dalam kesempatan ini menegaskan pentingnya menjaga dan merevitalisasi warisan budaya Melayu di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, sebagai bagian penting dari upaya memperkuat akar kebudayaan nasional.
“Kebudayaan Melayu adalah bagian penting dari akar kebudayaan Indonesia. Siak memiliki warisan luar biasa, dari istana, manuskrip, hingga tradisi yang masih hidup. Pemerintah akan terus mendukung upaya pelestarian dan revitalisasi agar warisan ini tidak hilang dimakan waktu,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangan resmi, Selasa (4/11/2025).
Dalam diskusi ini, Bupati Afni Zulkifli membuka pertemuan dengan menyampaikan berbagai potensi dan kekayaan sejarah yang dimiliki Kabupaten Siak, terutama peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura, yang menjadi pusat kebudayaan Melayu di Riau.
Bupati Afni menjelaskan, Istana Siak Sri Indrapura yang dibangun pada abad ke-18 merupakan salah satu cagar budaya nasional yang memiliki nilai sejarah tinggi. Selain itu, terdapat juga Masjid Sultan Siak serta Balai Kerapatan Tinggi yang merupakan pusat kejayaan Melayu dan masih berdiri hingga kini.
“Istana Siak ini kondisinya masih megah dari luar, tapi di dalamnya sudah banyak bagian yang rapuh. Karena ini cagar budaya nasional, tentu kami tidak bisa sembarangan melakukan perbaikan. Kami berharap ada dukungan dari Kementerian untuk revitalisasi, karena menjaga istana ini sama artinya menjaga marwah kebudayaan Melayu,” tutur Bupati Siak.
Lebih lanjut, dirinya juga menambahkan bahwa selain istana, Siak memiliki berbagai kekayaan budaya, antara lain 114 cagar budaya Kabupaten, dengan 20 di antaranya berstatus cagar budaya nasional; dua museum, yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah Kesultanan; 13 warisan budaya takbenda, termasuk seni, tradisi, dan manuskrip kuno, serta lebih dari 20.000 manuskrip yang telah direstorasi, dan naskah lainnya. Ia menegaskan bahwa Siak adalah “rumahnya kebudayaan Melayu”, tempat di mana jejak sejarah Kesultanan masih hidup hingga kini. “Kalau orang bilang, belum ke Riau kalau belum ke Siak. Karena di sinilah ruh kebudayaan Melayu itu berada,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Afni turut mengundang Menteri Kebudayaan untuk menghadiri Festival Julang Budaya Siak yang akan digelar pada 14–16 November mendatang. Melalui rangkaian kegiatan seperti pameran kerajinan dan kuliner tradisional, gelar budaya, hingga sarasehan budaya, acara yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Wilayah IV Kepulauan Riau ini merupakan ruang besar untuk menelusuri kembali budaya yang tumbuh di tepian Sungai Siak, sungai yang sejak dahulu menjadi saksi lahirnya peradaban dan pertemuan berbagai bangsa.
“Kebudayaan Melayu adalah bagian penting dari akar kebudayaan Indonesia. Siak memiliki warisan luar biasa, dari istana, manuskrip, hingga tradisi yang masih hidup. Pemerintah akan terus mendukung upaya pelestarian dan revitalisasi agar warisan ini tidak hilang dimakan waktu,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangan resmi, Selasa (4/11/2025).
Dalam diskusi ini, Bupati Afni Zulkifli membuka pertemuan dengan menyampaikan berbagai potensi dan kekayaan sejarah yang dimiliki Kabupaten Siak, terutama peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura, yang menjadi pusat kebudayaan Melayu di Riau.
Bupati Afni menjelaskan, Istana Siak Sri Indrapura yang dibangun pada abad ke-18 merupakan salah satu cagar budaya nasional yang memiliki nilai sejarah tinggi. Selain itu, terdapat juga Masjid Sultan Siak serta Balai Kerapatan Tinggi yang merupakan pusat kejayaan Melayu dan masih berdiri hingga kini.
“Istana Siak ini kondisinya masih megah dari luar, tapi di dalamnya sudah banyak bagian yang rapuh. Karena ini cagar budaya nasional, tentu kami tidak bisa sembarangan melakukan perbaikan. Kami berharap ada dukungan dari Kementerian untuk revitalisasi, karena menjaga istana ini sama artinya menjaga marwah kebudayaan Melayu,” tutur Bupati Siak.
Lebih lanjut, dirinya juga menambahkan bahwa selain istana, Siak memiliki berbagai kekayaan budaya, antara lain 114 cagar budaya Kabupaten, dengan 20 di antaranya berstatus cagar budaya nasional; dua museum, yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah Kesultanan; 13 warisan budaya takbenda, termasuk seni, tradisi, dan manuskrip kuno, serta lebih dari 20.000 manuskrip yang telah direstorasi, dan naskah lainnya. Ia menegaskan bahwa Siak adalah “rumahnya kebudayaan Melayu”, tempat di mana jejak sejarah Kesultanan masih hidup hingga kini. “Kalau orang bilang, belum ke Riau kalau belum ke Siak. Karena di sinilah ruh kebudayaan Melayu itu berada,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Afni turut mengundang Menteri Kebudayaan untuk menghadiri Festival Julang Budaya Siak yang akan digelar pada 14–16 November mendatang. Melalui rangkaian kegiatan seperti pameran kerajinan dan kuliner tradisional, gelar budaya, hingga sarasehan budaya, acara yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Wilayah IV Kepulauan Riau ini merupakan ruang besar untuk menelusuri kembali budaya yang tumbuh di tepian Sungai Siak, sungai yang sejak dahulu menjadi saksi lahirnya peradaban dan pertemuan berbagai bangsa.