home masjid

Sejarah Islam Nusantara: Di Balik Bayang Snouck Hurgronje

Rabu, 05 November 2025 - 06:32 WIB
Snouck Hurgronje menjadi arsitek intelektual di balik kebijakan itu. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Pada 1906, seorang pria Belanda berlayar meninggalkan Batavia dengan perasaan getir. Christiaan Snouck Hurgronje—yang pernah hidup sebagai “Abdul Ghaffar” di Mekkah—mengakhiri bab panjangnya di Hindia Belanda. Ia pulang ke Leiden, bukan untuk pensiun, tetapi untuk merawat warisan intelektual yang telah ia bangun: proyek besar membaca Islam di Nusantara dengan mata seorang orientalis sekaligus pengendali kolonial.

Dalam surat-suratnya kepada mentor di Jerman, Theodor Nöldeke, Snouck menulis dengan gairah tentang “penyebaran paling dini berbagai persaudaraan mistik di kawasan ini,” dan bagaimana Islam bertemu Hindu di kepulauan yang luas itu. Namun semangat akademiknya harus sering bertekuk lutut pada kepentingan administrasi kolonial. Ia diminta bukan untuk memahami Islam, melainkan untuk menaklukkannya secara ilmiah.

Snouck bukan sekadar ilmuwan; ia adalah penasihat negara yang paling berpengaruh terhadap kebijakan Belanda atas Islam. Kepada pejabat-pejabat kolonial, ia menulis nasihat dingin namun tajam: tarekat seperti Naqsyabandiyah adalah “gerakan panteistik yang sepenuhnya bebas dari aspirasi politik.” Dengan kata lain, biarkan mereka hidup—selama mereka tidak mengancam kekuasaan.

Pandangan ini lahir dari keyakinannya bahwa “masa depan Hindia” tidak terletak pada jihad, tapi pada penaklukan kultural. “Kaum Mohammedan Hindia,” tulisnya, harus diarahkan untuk meninggalkan para wali dan tradisi sufi demi pendidikan Barat dan rasionalitas modern.

Michael Laffan mencatat, Snouck melihat Mekkah sebagai “benteng terakhir ortodoksi konservatif,” tempat lahirnya fanatisme yang dibawa para jamaah haji ke Nusantara. Islam lokal harus disterilkan dari pengaruh itu. Maka lahirlah kebijakan pengawasan terhadap guru agama, pesantren, dan tarekat melalui Ordonansi Guru tahun 1905—produk nyata dari pandangan Snouck tentang kontrol atas pengetahuan keagamaan.

Para Murid dan Bayangannya

Setelah kembali ke Leiden, Snouck menjadi guru besar dan pengasuh generasi baru orientalis dan pejabat Hindia. Mereka disebut Laffan sebagai para penasihat untuk Indonesië: G.A.J. Hazeu, P.S. van Ronkel, T.W. Juynboll, hingga D.A. Rinkes.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya