home masjid

Tarekat ke Serikat, Sayyid ke Syekh: Dari Mistisisme ke Modernisme Islam

Rabu, 05 November 2025 - 16:00 WIB
Dari ruang pengajian dan percetakan kecil, muncul gelombang reformasi Islam di Hindia Belanda: dari tarekat menuju serikat, dari sayyid menuju syekhlahirnya kesadaran modern dan kebangsaan. (AI)
LANGIT7.ID-Dalam pusaran sejarah awal abad ke-20, ketika kolonialisme Belanda masih menegakkan tatanan rasial dan sosial di Hindia Timur, sebuah gelombang baru bangkit dari ruang-ruang pengajian dan percetakan kecil di Batavia, Surakarta, dan Padang. Gelombang itu membawa nama-nama yang kelak menjadi pelaku utama dalam gerakan Islam modern: Ahmad Dahlan, Ahmad Surkati, dan Agoes Salim. Mereka menandai babak baru dalam sejarah Islam di Nusantara—dari tarekat menuju serikat, dari sayyid menuju syekh.

Sejarawan Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara(Mizan, 2015)—terjemahan dari The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011)—menyebut masa ini sebagai “revolusi sunyi” dalam kehidupan Muslim Hindia. Ia bukan pemberontakan bersenjata seperti Perang Aceh, melainkan pemberontakan gagasan: terhadap stagnasi, hierarki rasial, dan otoritas tradisional.

Dari Mekah ke Batavia

Ahmad Surkati, seorang ulama Sudan yang dididik di Mekah, tiba di Jawa pada 1911. Ia direkrut mengajar di Sekolah al-‘Attas—sebuah lembaga milik perkumpulan Jam’iyyat al-Khayr, organisasi sosial Arab elit di Batavia. Tapi tak lama, ia berselisih dengan para sayyid yang menolak pandangannya soal kesetaraan antara keturunan Nabi dan kaum muwallad (Arab peranakan). Dari konflik sosial-keagamaan itu, Surkati mendirikan Al-Irsyad pada 1914, gerakan reformis yang menyerukan rasionalitas dan kesetaraan dalam Islam.

Di sisi lain, Ahmad Dahlan di Yogyakarta membentuk Muhammadiyah dua tahun sebelumnya, 1912. Terinspirasi gagasan modernisme Mesir dari Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Rida, Dahlan memperkenalkan pendidikan modern, amal sosial, dan tafsir Islam yang kontekstual.

Para ulama reformis ini bukan sekadar tokoh agama; mereka adalah perintis lembaga sosial. Sekolah, rumah sakit, hingga panti asuhan menjadi ladang dakwah baru. Di bawah kolonialisme, pendidikan menjadi bentuk perlawanan yang halus namun efektif.

Sarekat Islam: Islam yang Berserikat
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya