home edukasi & pesantren

Menag Nasaruddin Umar: Pesantren Harus Jadi The New Baitul Hikmah Dunia Islam

Kamis, 06 November 2025 - 09:28 WIB
Menag Nasaruddin Umar: Pesantren Harus Jadi The New Baitul Hikmah Dunia Islam
LANGIT7.ID-Jakarta;Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan yang memadukan kekuatan akal, wahyu, dan spiritualitas. Menag harap ke depan pesantren bisa menjadi the New Baitul Hikmah.

Hal itu disampaikan Menag dalam pidato pembuka Annual Conference on Pesantren Education bertema “Rekognisi, Afirmasi, dan Fasilitasi Pendidikan Pesantren untuk Pendidikan Bermutu dan Berkeadilan”. Acara ini diselenggarakan Majelis Masyayikh di Jakarta, Rabu (5/11).

Hadir, Ketua Majelis Masyayikh KH Abdul Ghafar Rozin, Direktur Pesantren Basnang Said, Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, pengasuh dan tokoh pesantren, serta perwakilan berbagai organisasi masyarakat, guru, dosen, dan akademisi.

Baitul Hikmah berdiri dan berkembang pada zaman Abbasiyah. Baitul Hikmah menjadi pusat intelektual yang berfungsi sebagai perpustakaan, lembaga pendidikan, pusat penelitian, sekaligus biro penerjemahan. Lembaga ini didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan putranya, al-Ma'mun. Baitul Hikmah menjadi simbol pusat kemajuan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam.

“Pondok pesantren diharapkan menjadi the new Baitul Hikmah yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan luar biasa seperti Jabir Ibn Hayyan, Ar-Razi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lain,” harap Menag dalam keterangan resmi, Kamis (6/11/2025).

Menag Nasaruddin lalu menyoroti perbedaan mendasar antara pendidikan umum dan pendidikan Islam, khususnya dalam hal sumber dan metode pencarian ilmu. “Kalau di sekolah tempat mencari ilmunya guru, kalau di madrasah dan pesantren tempat mencari ilmunya Allah, mursyid, syekh,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, pendidikan umum cenderung hanya menekankan peran rasio dalam memperoleh pengetahuan. Ia menyebut cara mendapatkan sumber keilmuan di sekolah konvensional umumnya melalui pendekatan logis dan rasional semata.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya