Hilangnya Hakikat: Antara Fanatisme dan Kemudahan yang Menyesatkan
Miftah yusufpati
Jum'at, 07 November 2025 - 17:00 WIB
Kesalahpahaman terhadap ajaran Islam sering lahir karena umat hanya mengambil sebagian nash, tanpa menimbang keseimbangannya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di banyak ruang sosial umat Islam, perdebatan antara “yang terlalu ketat” dan “yang terlalu longgar” kerap muncul — terutama ketika berbicara soal seni, hiburan, dan gaya hidup. Dari layar dakwah digital hingga khutbah di mimbar, umat masih berputar pada pertanyaan lama: sejauh mana Islam memberi ruang bagi ekspresi dan kegembiraan?
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama moderat asal Mesir, dalam bukunya berjudul "Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah" (Citra Islami Press, 1997), menulis dengan nada prihatin. “Masalah permainan dan seni,” katanya, “adalah persoalan yang membuat manusia mudah tergelincir pada dua kutub ekstrem — berlebihan atau mempermudah.”
Qardhawi menegaskan, kesalahpahaman terhadap ajaran Islam sering lahir karena umat hanya mengambil sebagian nash, tanpa menimbang keseimbangannya. Dalam pandangannya, ada dua kelompok besar yang sama-sama keliru. Pertama, mereka yang menganggap Islam menolak tawa, keceriaan, dan seni. Kedua, mereka yang menjadikan kebebasan tanpa batas sebagai tafsir modern atas Islam.
Wajah Muram Dakwah
“Sebagian aktivis dakwah menjadikan kemuraman sebagai simbol kesalehan,” tulis Qardhawi. Mereka tampil dengan wajah tegang dan pelipis berkerut, seakan duka adalah bukti iman. Dalam masyarakat modern yang lelah, sikap semacam ini justru menjauhkan Islam dari daya tariknya yang rahmatan lil ‘alamin.
Fenomena ini sebagai “krisis keseimbangan spiritual.” Kita sedang kehilangan rasa — antara tazkiyah (penyucian diri) dan tahzib (pembinaan jiwa). Padahal Nabi pun tersenyum lebih sering daripada murka.
Pandangan Qardhawi sejalan dengan refleksi Albert Einstein tentang moralitas dan kebijaksanaan: “Science without religion is lame, religion without science is blind.” Dalam konteks umat, bisa dikatakan — ketat tanpa kasih sayang itu kering, longgar tanpa arah itu liar.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama moderat asal Mesir, dalam bukunya berjudul "Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah" (Citra Islami Press, 1997), menulis dengan nada prihatin. “Masalah permainan dan seni,” katanya, “adalah persoalan yang membuat manusia mudah tergelincir pada dua kutub ekstrem — berlebihan atau mempermudah.”
Qardhawi menegaskan, kesalahpahaman terhadap ajaran Islam sering lahir karena umat hanya mengambil sebagian nash, tanpa menimbang keseimbangannya. Dalam pandangannya, ada dua kelompok besar yang sama-sama keliru. Pertama, mereka yang menganggap Islam menolak tawa, keceriaan, dan seni. Kedua, mereka yang menjadikan kebebasan tanpa batas sebagai tafsir modern atas Islam.
Wajah Muram Dakwah
“Sebagian aktivis dakwah menjadikan kemuraman sebagai simbol kesalehan,” tulis Qardhawi. Mereka tampil dengan wajah tegang dan pelipis berkerut, seakan duka adalah bukti iman. Dalam masyarakat modern yang lelah, sikap semacam ini justru menjauhkan Islam dari daya tariknya yang rahmatan lil ‘alamin.
Fenomena ini sebagai “krisis keseimbangan spiritual.” Kita sedang kehilangan rasa — antara tazkiyah (penyucian diri) dan tahzib (pembinaan jiwa). Padahal Nabi pun tersenyum lebih sering daripada murka.
Pandangan Qardhawi sejalan dengan refleksi Albert Einstein tentang moralitas dan kebijaksanaan: “Science without religion is lame, religion without science is blind.” Dalam konteks umat, bisa dikatakan — ketat tanpa kasih sayang itu kering, longgar tanpa arah itu liar.