home masjid

Ketika Islam Menyapa Keindahan: Dari Syair Nabi hingga Sandiwara Modern

Rabu, 12 November 2025 - 14:53 WIB
Dari syair Nabi hingga teater modern, seni menjadi jalan dakwah yang memuliakan akal, meneguhkan moral, dan mendekatkan pada Tuhan. Ilustrasi: mhy
LANGIT7.ID — Dalam sejarah panjang peradaban Islam, keindahan bukan sekadar soal bentuk, tapi juga cara manusia mengungkapkan kebenaran. Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk mengenali dan menikmati keindahan, tetapi juga mengungkapkannya dengan cara yang indah. “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan,” sabda Nabi Muhammad SAW (HR. Muslim).

Ungkapan itu menjadi dasar bagi estetika Islam yang tidak berhenti pada rupa dan suara, tetapi menyentuh pada keindahan tutur, gagasan, dan moral. Dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah(Citra Islami Press, 1997),Syaikh Yusuf Qardhawi menulis bahwa ekspresi keindahan adalah bagian dari iman, selama ia berpihak pada kebenaran dan menjauh dari kebatilan.

Rasulullah SAW bukan hanya mendengarkan syair, tapi juga menghargainya. Qardhawi mencatat, Nabi memuji qasidah Baanat Su’aadukarya Ka’ab bin Zuhair—puisi yang ditulis setelah sang penyair bertobat dan memeluk Islam. Nabi juga mengutip bait Lubaid: “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah itu batil.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

“Perkataan yang paling benar diucapkan oleh penyair adalah perkataan Lubaid,” sabda Nabi—sebuah pengakuan bahwa keindahan kata bisa menjadi medium kebenaran. Bahkan beliau menegaskan, “Sesungguhnya di antara bayan (tuturan) ada yang menarik, dan di antara syair ada yang bernilai hikmah.” (HR. Malik, Ahmad, dan Bukhari).

Bagi Qardhawi, hadis ini adalah pembeda antara syair yang meneguhkan moral dan syair yang menyesatkan. Al-Qur’an sendiri menegaskan peringatan terhadap penyair yang “dihikuti oleh orang-orang yang sesat,” kecuali mereka “yang beriman, beramal saleh, dan banyak mengingat Allah.” (QS Asy-Syu’ara: 224–227).

Dari Qasidah ke Kisah

Dalam lintasan sejarah, para ulama besar juga menjadi penyair. Imam Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, dan bahkan para sahabat Rasul dikenal piawai menulis syair yang sarat makna spiritual. Qardhawi mencatat bahwa banyak sahabat menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan bantuan syair, sebab bahasa Arab klasik yang puitis adalah kunci pemahaman wahyu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya