Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 23 Mei 2026
home masjid detail berita

Ketika Islam Menyapa Keindahan: Dari Syair Nabi hingga Sandiwara Modern

miftah yusufpati Rabu, 12 November 2025 - 14:53 WIB
Ketika Islam Menyapa Keindahan: Dari Syair Nabi hingga Sandiwara Modern
Dari syair Nabi hingga teater modern, seni menjadi jalan dakwah yang memuliakan akal, meneguhkan moral, dan mendekatkan pada Tuhan. Ilustrasi: mhy
LANGIT7.ID — Dalam sejarah panjang peradaban Islam, keindahan bukan sekadar soal bentuk, tapi juga cara manusia mengungkapkan kebenaran. Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk mengenali dan menikmati keindahan, tetapi juga mengungkapkannya dengan cara yang indah. “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan,” sabda Nabi Muhammad SAW (HR. Muslim).

Ungkapan itu menjadi dasar bagi estetika Islam yang tidak berhenti pada rupa dan suara, tetapi menyentuh pada keindahan tutur, gagasan, dan moral. Dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah (Citra Islami Press, 1997), Syaikh Yusuf Qardhawi menulis bahwa ekspresi keindahan adalah bagian dari iman, selama ia berpihak pada kebenaran dan menjauh dari kebatilan.

Rasulullah SAW bukan hanya mendengarkan syair, tapi juga menghargainya. Qardhawi mencatat, Nabi memuji qasidah Baanat Su’aadu karya Ka’ab bin Zuhair—puisi yang ditulis setelah sang penyair bertobat dan memeluk Islam. Nabi juga mengutip bait Lubaid: “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah itu batil.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

“Perkataan yang paling benar diucapkan oleh penyair adalah perkataan Lubaid,” sabda Nabi—sebuah pengakuan bahwa keindahan kata bisa menjadi medium kebenaran. Bahkan beliau menegaskan, “Sesungguhnya di antara bayan (tuturan) ada yang menarik, dan di antara syair ada yang bernilai hikmah.” (HR. Malik, Ahmad, dan Bukhari).

Bagi Qardhawi, hadis ini adalah pembeda antara syair yang meneguhkan moral dan syair yang menyesatkan. Al-Qur’an sendiri menegaskan peringatan terhadap penyair yang “dihikuti oleh orang-orang yang sesat,” kecuali mereka “yang beriman, beramal saleh, dan banyak mengingat Allah.” (QS Asy-Syu’ara: 224–227).

Dari Qasidah ke Kisah

Dalam lintasan sejarah, para ulama besar juga menjadi penyair. Imam Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, dan bahkan para sahabat Rasul dikenal piawai menulis syair yang sarat makna spiritual. Qardhawi mencatat bahwa banyak sahabat menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan bantuan syair, sebab bahasa Arab klasik yang puitis adalah kunci pemahaman wahyu.

Karya sastra pun berkembang pesat. Dari Maqamat al-Hamadhani, Risaalatul Ghufran karya Abu al-Ala al-Ma’arri, hingga kisah Seribu Satu Malam, Islam mengenal berbagai bentuk ekspresi sastra yang tidak sekadar menghibur, tapi juga merenungkan hakikat hidup. “Seni dalam Islam bukanlah kemewahan yang sia-sia,” tulis Qardhawi, “melainkan jalan untuk meneguhkan nilai-nilai kebenaran.”

Dalam bagian reflektif bukunya, Qardhawi bercerita tentang pengalamannya menulis dua naskah sandiwara: Nabi Yusuf AS dan Alim wa Thaghut (tentang Sa’id bin Jubair dan Hajjaj bin Yusuf). Ia mengakui, seni peran bisa menjadi sarana dakwah yang kuat selama tidak menyalahi prinsip syariat.

“Pertunjukan bukan kebohongan yang diharamkan,” tulisnya, “karena para penonton memahami bahwa yang mereka saksikan adalah simbol dan pelajaran, bukan fakta literal.” Ia mengaitkan hal itu dengan kisah dalam Al-Qur’an tentang semut dan burung Hud-hud yang berbicara kepada Nabi Sulaiman AS—bentuk dramatik yang diterjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa manusia untuk tujuan moral.

Bahasa Fushah dan Keutuhan Umat

Salah satu kekhawatiran Qardhawi adalah lunturnya bahasa Arab fushah di tengah maraknya dialek pasar. Menurutnya, bahasa yang fasih adalah sarana kesatuan umat dan jembatan bagi mereka yang mempelajari Al-Qur’an. “Upaya mengganti fushah dengan logat lokal adalah strategi halus untuk memisahkan umat Islam dari sumber ajarannya,” tulisnya.

Bagi Qardhawi, mempertahankan bahasa yang fasih berarti menjaga ruh kebudayaan Islam itu sendiri—sebuah kebudayaan yang tumbuh dari keindahan makna, bukan sekadar bentuk.

Dalam pandangan Islam, seni tidak berdiri di luar iman. Ia adalah pantulan dari hati yang mengenal kebenaran. Seperti ditulis Qardhawi, seni Islam tidak menolak modernitas—ia hanya menuntut arah moral yang jelas: mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan, dan menumbuhkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Seni yang sejati, tulisnya, adalah seni yang “menegakkan keindahan karena Allah.” Dari syair Ka’ab hingga sandiwara modern, dari qasidah di gurun hingga teater di layar kaca, semuanya menjadi bagian dari satu tradisi panjang: tradisi keindahan yang beriman.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 23 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)