PDPI: Pencegahan Pneumonia Tak Cukup dengan Obat, Perlu Nutrisi dan Udara Bersih
Nabil
Rabu, 12 November 2025 - 15:30 WIB
PDPI: Pencegahan Pneumonia Tak Cukup dengan Obat, Perlu Nutrisi dan Udara Bersih
LANGIT7.ID–Jakarta; Pneumonia masih menjadi tantangan besar kesehatan global yang perlu ditangani dengan pendekatan menyeluruh. Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), upaya pencegahan tidak bisa hanya bergantung pada pengobatan medis, melainkan harus menggabungkan vaksinasi, nutrisi, kualitas udara bersih, serta perlindungan terhadap kelompok berisiko tinggi seperti pasien dengan daya tahan tubuh lemah.
Prof. Dr. dr. Bintang Y.M. Sinaga, Sp.P(K), Spesialis Paru Konsultan sekaligus anggota PDPI, menjelaskan bahwa pneumonia merupakan peradangan akut pada paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit yang menjadi penyebab lebih dari 2,4 juta kematian di seluruh dunia. Menurutnya, langkah pencegahan harus dilakukan secara komprehensif.
“Pengendalian pneumonia haruslah holistik dengan mengintegrasikan vaksinasi, nutrisi, kualitas udara, dan tindakan iklim,” ujarnya dalam webinar, Rabu (12/11/2025).
Baca juga: PDPI Serukan Gerakan Paru Sehat Nasional di Hari Kesehatan dan Pneumonia Sedunia 2025
Ia menjelaskan bahwa vaksin seperti PCV pneumokokus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), influenza musiman, dan RSV terbukti efektif menurunkan beban penyakit sekaligus membentuk kekebalan kelompok. Selain itu, nutrisi seimbang berperan besar memperkuat daya tahan tubuh, terutama melalui pemberian ASI eksklusif enam bulan pertama dan suplementasi vitamin A, D, dan zinc. Faktor lingkungan juga sangat memengaruhi risiko pneumonia, terutama paparan polusi udara dan perubahan iklim yang meningkatkan kasus penyakit pernapasan.
Sementara itu, Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), MPd.Ked, Ketua Divisi Infeksi RS Persahabatan, menyoroti risiko tinggi pneumonia pada pasien dengan gangguan imunitas atau imunokompromais. Menurutnya, kelompok pasien seperti penderita kanker, HIV, atau penerima transplantasi organ rentan terhadap infeksi oportunistik yang berkembang lebih cepat dan berat.
“Kita segera harus memberikan terapi secara empirik, jangan ditunda-tunda menunggu hasil uji labnya,” tegasnya.
Prof. Dr. dr. Bintang Y.M. Sinaga, Sp.P(K), Spesialis Paru Konsultan sekaligus anggota PDPI, menjelaskan bahwa pneumonia merupakan peradangan akut pada paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit yang menjadi penyebab lebih dari 2,4 juta kematian di seluruh dunia. Menurutnya, langkah pencegahan harus dilakukan secara komprehensif.
“Pengendalian pneumonia haruslah holistik dengan mengintegrasikan vaksinasi, nutrisi, kualitas udara, dan tindakan iklim,” ujarnya dalam webinar, Rabu (12/11/2025).
Baca juga: PDPI Serukan Gerakan Paru Sehat Nasional di Hari Kesehatan dan Pneumonia Sedunia 2025
Ia menjelaskan bahwa vaksin seperti PCV pneumokokus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), influenza musiman, dan RSV terbukti efektif menurunkan beban penyakit sekaligus membentuk kekebalan kelompok. Selain itu, nutrisi seimbang berperan besar memperkuat daya tahan tubuh, terutama melalui pemberian ASI eksklusif enam bulan pertama dan suplementasi vitamin A, D, dan zinc. Faktor lingkungan juga sangat memengaruhi risiko pneumonia, terutama paparan polusi udara dan perubahan iklim yang meningkatkan kasus penyakit pernapasan.
Sementara itu, Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), MPd.Ked, Ketua Divisi Infeksi RS Persahabatan, menyoroti risiko tinggi pneumonia pada pasien dengan gangguan imunitas atau imunokompromais. Menurutnya, kelompok pasien seperti penderita kanker, HIV, atau penerima transplantasi organ rentan terhadap infeksi oportunistik yang berkembang lebih cepat dan berat.
“Kita segera harus memberikan terapi secara empirik, jangan ditunda-tunda menunggu hasil uji labnya,” tegasnya.