home masjid

Kesehatan Fisik Menurut Al-Qur’an: Sebagai Mandat Keimanan

Rabu, 19 November 2025 - 17:59 WIB
Dalam Al-Quran, kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam literatur Islam klasik, kesehatan bukan sekadar kondisi medis, melainkan bagian dari tujuan kehadiran agama itu sendiri. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran menegaskan bahwa Islam hadir untuk memelihara agama, jiwa, akal, jasmani, harta, dan keturunan. Dari enam tujuan pokok itu, tiga berkaitan langsung dengan kesehatan. Artinya, tubuh sehat bukan hanya kebutuhan biologis, tetapi amanah teologis.

Di dalam bahasa keagamaan, istilah sehat bergandengan dengan afiat. Kamus-kamus klasik membedakan keduanya: sehat menunjuk pada kondisi fisik yang bebas dari penyakit, sedangkan afiat bermakna perlindungan Ilahi yang membuat organ tubuh berfungsi sebagaimana tujuan penciptaannya. Mata yang sehat dapat melihat, tetapi mata yang afiat memilih untuk tidak memandang yang dilarang. Perbedaan ini memberi warna moral pada konsep kesehatan.

Di satu sisi, doktrin Islam memuat pesan-pesan umum: menjaga kebersihan, pola makan seimbang, hingga menghindari bahaya. Di sisi lain, praktik ibadah yang sering dipandang ketat justru menyelipkan pesan perawatan fisik. Ketika beberapa sahabat Nabi memperketat ibadah hingga mengabaikan jasad, Nabi menegur: Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.

Majelis Ulama Indonesia (1983) mengemas itu dalam rumusan kesehatan sebagai ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang wajib disyukuri dan dikembangkan. Kesehatan, dengan demikian, bukan keadaan alami, tetapi keadaan yang mesti diupayakan.

Kebersihan yang Disandingkan dengan Tobat

Dalam Al-Baqarah ayat 222, kebersihan dipasangkan dengan tobat, dua kondisi yang sama-sama menyucikan: satu di ranah jiwa, satu di ranah tubuh. Wahyu-wahyu awal kepada Nabi Muhammad juga membawa perintah membersihkan pakaian dan meninggalkan kekotoran. Di masa ketika dunia belum mengenal sistem sanitasi modern, perintah itu menjadi pedoman pencegahan dini.

Hadis-hadis seputar kebersihan, meski sebagian dinilai lemah, diteguhkan oleh praktik-praktik kesehatan yang masuk dalam detail keseharian: menutup makanan, mencuci tangan, menyikat gigi, tidak bernafas ketika minum, dan tidak membuang hajat di tempat yang airnya tidak mengalir. Pola hidup higienis hadir jauh sebelum sains memformalkan higienitas sebagai standar kesehatan publik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya