Wajah Syukur dalam Kehidupan Kita
Miftah yusufpati
Sabtu, 22 November 2025 - 05:50 WIB
Syukur, dalam pandangan Al-Quran, adalah seni merawat nikmat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Kata syukur akrab diucap: setelah mendapat bonus, lolos dari kecelakaan, atau saat rezeki datang tak terduga. Namun dalam ajaran Al-Qur’an, syukur bukan sekadar reaksi emosional sesaat. Ia adalah cara hidup yang membawa keberlanjutan nikmat.
Dalam Wawasan Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa syukur berakar pada makna kepuasan dengan sesuatu yang sedikit sekalipun. Bahasa Arab menggunakannya untuk menggambarkan kuda yang tetap gemuk meskipun makan sedikit: menerima dengan lapang, lalu berkembang karenanya.
Ar-Raghib al-Isfahani, pakar bahasa Al-Qur’an, menambahkan: syukur berarti menghadirkan nikmat dalam kesadaran lalu menampakkannya. Lawannya adalah kufur, yang berarti menutupi dan mengingkari nikmat. Karena itu, syukur dalam Al-Qur’an kerap dipasangkan dengan kufur, seperti peringatan keras dalam QS Ibrahim ayat 7: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat, dan jika kamu kufur, azab-Ku amat pedih.
---
Dalam tafsir itu, syukur tak berhenti pada rasa. Ia menjadi tindakan. Bukan hanya mengakui nikmat lewat lisan, tapi menggunakannya sesuai tujuan Pemberinya. Syukur menuntut orientasi moral: setiap kemampuan, kesehatan, jabatan, dan ilmu harus kembali pada kebaikan. Nabi bahkan menegaskan bahwa Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba, sebagaimana riwayat At-Tirmidzi.
Karena itu pula, para mufasir menyebut syukur sebagai ciri orang yang tulus (mukhlis). Setan, dalam QS Shad ayat 82–83, mengakui tak berdaya terhadap hamba yang ikhlas dan bersyukur. Syukur tak hanya menyelamatkan dari keluh kesah, tetapi menjadi benteng spiritual menghadapi godaan.
---
Dalam Wawasan Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa syukur berakar pada makna kepuasan dengan sesuatu yang sedikit sekalipun. Bahasa Arab menggunakannya untuk menggambarkan kuda yang tetap gemuk meskipun makan sedikit: menerima dengan lapang, lalu berkembang karenanya.
Ar-Raghib al-Isfahani, pakar bahasa Al-Qur’an, menambahkan: syukur berarti menghadirkan nikmat dalam kesadaran lalu menampakkannya. Lawannya adalah kufur, yang berarti menutupi dan mengingkari nikmat. Karena itu, syukur dalam Al-Qur’an kerap dipasangkan dengan kufur, seperti peringatan keras dalam QS Ibrahim ayat 7: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat, dan jika kamu kufur, azab-Ku amat pedih.
---
Dalam tafsir itu, syukur tak berhenti pada rasa. Ia menjadi tindakan. Bukan hanya mengakui nikmat lewat lisan, tapi menggunakannya sesuai tujuan Pemberinya. Syukur menuntut orientasi moral: setiap kemampuan, kesehatan, jabatan, dan ilmu harus kembali pada kebaikan. Nabi bahkan menegaskan bahwa Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba, sebagaimana riwayat At-Tirmidzi.
Karena itu pula, para mufasir menyebut syukur sebagai ciri orang yang tulus (mukhlis). Setan, dalam QS Shad ayat 82–83, mengakui tak berdaya terhadap hamba yang ikhlas dan bersyukur. Syukur tak hanya menyelamatkan dari keluh kesah, tetapi menjadi benteng spiritual menghadapi godaan.
---