home masjid

Syukur Bukan untuk Tuhan, Lalu untuk Siapa?

Ahad, 23 November 2025 - 04:15 WIB
Syukur bukan sekadar kata alhamdulillah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Dalam banyak doa, manusia menengadahkan tangan lalu mengucap syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan. Selama berabad-abad, syukur dipahami sebagai bentuk pemujaan vertikal: manusia memberi, Tuhan menerima. Namun Al-Qur’an justru merumuskan arah yang berbeda.

Barangsiapa bersyukur, ia sesungguhnya bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri (QS An-Naml [27]: 40). Ayat itu dikutip oleh Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan), menegaskan: Allah tidak memperoleh manfaat apa pun dari syukur manusia. Syukur, kata Quraish Shihab, bukan kebutuhan Tuhan, melainkan kebutuhan manusia.

Dalam tradisi tafsir, para ulama menjelaskan bahwa Allah digambarkan sebagai Syakirun ‘Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158) bukan karena Ia memerlukan apresiasi, melainkan karena Dia melipatgandakan nikmat bagi yang menampakkan rasa terima kasihnya.

Kisah klasik yang kerap dikutip: keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah memberikan makanan berbuka mereka kepada fakir miskin, tanpa berharap pujian. Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah mengharapkan keridhaan Allah (QS Al-Insan [76]: 9). Syukur dalam bentuk ini tidak meminta balasan dari siapa pun — justru memperkaya jiwa pelakunya.

Dari sudut sosiologi agama, antropolog Marcel Mauss dalam The Gift (1925) mencatat bahwa setiap pemberian mengandung dorongan untuk membalas. Al-Qur’an justru menggeser logika itu: pemberian murni sebagai kebebasan. Dengan cara ini, syukur memutus siklus kepentingan.

Penelitian psikologi kontemporer memperkuat pesan itu. Robert A. Emmons, profesor psikologi UC Davis, menemukan bahwa ekspresi syukur secara konsisten meningkatkan kesehatan mental, menurunkan stres, dan memperbaiki hubungan sosial (Thanks: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier, 2007). Syukur menyehatkan tubuh: sistem imun membaik, kualitas tidur meningkat, depresi menurun.

Dengan kata lain, apa yang agama ajarkan sejak awal kini diverifikasi sains: syukur kembali kepada yang bersyukur.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya