Akhlak terhadap Allah: Perbedaannya dengan Etika
Miftah yusufpati
Kamis, 27 November 2025 - 05:16 WIB
Dalam dunia modern yang cenderung menempatkan agama hanya pada ruang privat, pembahasan akhlak terhadap Allah tampak seperti suara dari masa lampau. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di tengah perdebatan moral yang sering berkutat pada soal benar-salah dalam relasi antar-manusia, akhlak terhadap Allah kerap terlupa. Padahal, menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, fondasi akhlak Islam justru dimulai dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Dari hubungan vertikal inilah laku horizontal menemukan arah dan maknanya.
Etika yang berkembang dalam tradisi filsafat Barat umumnya merujuk pada perilaku sosial. Aristotle misalnya menekankan etika sebagai pembiasaan menuju kebajikan demi kehidupan yang baik dalam polis. Kant memandang etika sebagai kewajiban rasional. Sementara etika modern sering kali hanya menjadi tata krama publik: sopan santun, penghormatan hak orang lain, atau ketertiban sosial.
Tetapi akhlak dalam tradisi agama jauh lebih dalam. Ia merambah wilayah batin: kesadaran, niat, keyakinan, dan pengakuan spiritual. Akhlak bukan sekadar cara manusia memperlakukan sesamanya, tetapi juga bagaimana manusia memaknai keberadaan Tuhan. Maka, akhlak tidak berhenti pada tindakan, melainkan pada orientasi terdalam manusia.
Akhlak terhadap Allah bermula dari pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Dia, sebagaimana dicatat Quraish Shihab. Ia memiliki sifat-sifat terpuji yang tak terjangkau manusia—bahkan malaikat mengakui ketidakmampuan mereka memuji-Nya sesuai kebesaran-Nya. Ayat demi ayat Al-Quran memerintahkan manusia untuk memuji dan menyucikan-Nya, dari guntur yang bertasbih (QS Ar-Ra'd: 13) hingga seluruh makhluk yang berserak di semesta (QS Al-Isra: 44).
Berbeda dengan etika yang kerap mengandalkan penilaian rasional atau kesepakatan sosial, akhlak terhadap Allah menuntut kesadaran tentang kesempurnaan-Nya. Menyucikan-Nya berarti membersihkan gambaran manusia tentang Tuhan dari segala kekurangan. Memuji-Nya berarti mengakui bahwa segala kebaikan kembali kepada-Nya. Hubungan moral ini bersifat spiritual, bukan sosial.
Salah satu bentuk akhlak yang dibahas Quraish Shihab adalah menjadikan Allah sebagai wakil—perlindungan tempat manusia menyerahkan urusannya. Di permukaan, konsep ini tampak serupa dengan perwakilan dalam hubungan antar-manusia. Tetapi perbedaannya mencolok. Perwakilan manusia bersifat simetris: mewakilkan berarti memberi kuasa dan menariknya kembali jika tidak sesuai kehendak. Namun perwakilan kepada Allah sepenuhnya asimetris: manusia menyadari keterbatasannya dan menerima keputusan Tuhan tanpa menarik kembali kepercayaannya.
Ahli etika kontemporer Charles Taylor menyebut kehidupan spiritual sebagai “ruang kedalaman moral” tempat manusia mengakui adanya sumber nilai yang lebih tinggi daripada dirinya. Dalam Islam, kedalaman moral itu terletak pada kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui, sedangkan manusia tidak (QS Al-Baqarah: 216). Maka akhlak terhadap Allah bukan menyerah buta, melainkan penyerahan yang disertai usaha.
Etika yang berkembang dalam tradisi filsafat Barat umumnya merujuk pada perilaku sosial. Aristotle misalnya menekankan etika sebagai pembiasaan menuju kebajikan demi kehidupan yang baik dalam polis. Kant memandang etika sebagai kewajiban rasional. Sementara etika modern sering kali hanya menjadi tata krama publik: sopan santun, penghormatan hak orang lain, atau ketertiban sosial.
Tetapi akhlak dalam tradisi agama jauh lebih dalam. Ia merambah wilayah batin: kesadaran, niat, keyakinan, dan pengakuan spiritual. Akhlak bukan sekadar cara manusia memperlakukan sesamanya, tetapi juga bagaimana manusia memaknai keberadaan Tuhan. Maka, akhlak tidak berhenti pada tindakan, melainkan pada orientasi terdalam manusia.
Akhlak terhadap Allah bermula dari pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Dia, sebagaimana dicatat Quraish Shihab. Ia memiliki sifat-sifat terpuji yang tak terjangkau manusia—bahkan malaikat mengakui ketidakmampuan mereka memuji-Nya sesuai kebesaran-Nya. Ayat demi ayat Al-Quran memerintahkan manusia untuk memuji dan menyucikan-Nya, dari guntur yang bertasbih (QS Ar-Ra'd: 13) hingga seluruh makhluk yang berserak di semesta (QS Al-Isra: 44).
Berbeda dengan etika yang kerap mengandalkan penilaian rasional atau kesepakatan sosial, akhlak terhadap Allah menuntut kesadaran tentang kesempurnaan-Nya. Menyucikan-Nya berarti membersihkan gambaran manusia tentang Tuhan dari segala kekurangan. Memuji-Nya berarti mengakui bahwa segala kebaikan kembali kepada-Nya. Hubungan moral ini bersifat spiritual, bukan sosial.
Salah satu bentuk akhlak yang dibahas Quraish Shihab adalah menjadikan Allah sebagai wakil—perlindungan tempat manusia menyerahkan urusannya. Di permukaan, konsep ini tampak serupa dengan perwakilan dalam hubungan antar-manusia. Tetapi perbedaannya mencolok. Perwakilan manusia bersifat simetris: mewakilkan berarti memberi kuasa dan menariknya kembali jika tidak sesuai kehendak. Namun perwakilan kepada Allah sepenuhnya asimetris: manusia menyadari keterbatasannya dan menerima keputusan Tuhan tanpa menarik kembali kepercayaannya.
Ahli etika kontemporer Charles Taylor menyebut kehidupan spiritual sebagai “ruang kedalaman moral” tempat manusia mengakui adanya sumber nilai yang lebih tinggi daripada dirinya. Dalam Islam, kedalaman moral itu terletak pada kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui, sedangkan manusia tidak (QS Al-Baqarah: 216). Maka akhlak terhadap Allah bukan menyerah buta, melainkan penyerahan yang disertai usaha.