Tobat Nabi Daud: Kekuasaan Wajib Tunduk pada Keadilan, Bukan Emosi Sesaat
Miftah yusufpati
Ahad, 30 November 2025 - 04:15 WIB
Kisah Daud ini, menghadirkan pertemuan antara spiritualitas dan etika publik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di antara kisah para nabi yang memuat teguran halus dari Tuhan, riwayat Nabi Daud a.s. dalam surah Shaad menjadi salah satu yang paling enigmatis. Bukan karena dramatisnya peristiwa, melainkan cara Al Quran menggambarkannya: singkat, simbolik, namun cukup kuat untuk menggoyang kesadaran seorang raja-hakim yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.
Kisah itu bermula ketika dua orang yang berselisih tiba-tiba memanjat dinding mihrab Daud. Al Quran menuturkan bagaimana keduanya membuat sang nabi terperanjat sebelum berkata:
لا تخف خصمان بغى بعضنا على بعض فاحكم بيننا بالحق ولا تشطط واهدنا إلى سواء الصراط
Salah satu dari mereka mengadu bahwa saudaranya memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sementara ia hanya memiliki seekor. Lalu saudaranya menuntut agar kambing satu-satunya itu diserahkan pula kepadanya.
Daud memutuskan seketika:
لقد ظلمك بسؤال نعجتك إلى نعاجه
Namun Al Quran lalu menyelipkan kalimat yang mengubah seluruh adegan:
Kisah itu bermula ketika dua orang yang berselisih tiba-tiba memanjat dinding mihrab Daud. Al Quran menuturkan bagaimana keduanya membuat sang nabi terperanjat sebelum berkata:
لا تخف خصمان بغى بعضنا على بعض فاحكم بيننا بالحق ولا تشطط واهدنا إلى سواء الصراط
Salah satu dari mereka mengadu bahwa saudaranya memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sementara ia hanya memiliki seekor. Lalu saudaranya menuntut agar kambing satu-satunya itu diserahkan pula kepadanya.
Daud memutuskan seketika:
لقد ظلمك بسؤال نعجتك إلى نعاجه
Namun Al Quran lalu menyelipkan kalimat yang mengubah seluruh adegan: