LANGIT7.ID- Di antara kisah para nabi yang memuat teguran halus dari Tuhan, riwayat Nabi Daud a.s. dalam surah Shaad menjadi salah satu yang paling enigmatis. Bukan karena dramatisnya peristiwa, melainkan cara Al Quran menggambarkannya: singkat, simbolik, namun cukup kuat untuk menggoyang kesadaran seorang raja-hakim yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.
Kisah itu bermula ketika dua orang yang berselisih tiba-tiba memanjat dinding mihrab Daud. Al Quran menuturkan bagaimana keduanya membuat sang nabi terperanjat sebelum berkata:
لا تخف خصمان بغى بعضنا على بعض فاحكم بيننا بالحق ولا تشطط واهدنا إلى سواء الصراطSalah satu dari mereka mengadu bahwa saudaranya memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sementara ia hanya memiliki seekor. Lalu saudaranya menuntut agar kambing satu-satunya itu diserahkan pula kepadanya.
Daud memutuskan seketika:
لقد ظلمك بسؤال نعجتك إلى نعاجهNamun Al Quran lalu menyelipkan kalimat yang mengubah seluruh adegan:
وظن داود أنما فتناه فاستغفر ربه وخر راكعا وأنابMenurut Syaikh. Yusuf al Qardhawi dalam
At Taubat Ila Allah (Maktabah Wahbah, 1998), inilah momen saat Daud menyadari bahwa ia terburu-buru menjatuhkan putusan sebelum mendengar pihak kedua. Sebuah kekeliruan kecil dalam prosedur hukum, tetapi sangat berarti bagi seorang nabi yang diangkat menjadi khalifah—pemimpin yang memutuskan perkara manusia.
Tafsir al Tabari dan Ibn Katsir menegaskan bahwa inti peristiwa bukan pada materi konflik dua orang itu, melainkan pada pesan ketegasan ilahi: seorang hakim tidak boleh bergantung pada cerita sepihak, betapapun meyakinkannya. Dalam penjelasan mereka, tergesa-gesa Daud disebut sebagai fitnah, yaitu ujian yang menguji kejernihan nurani seorang nabi.
Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf membaca adegan itu sebagai bentuk teguran pendidikan: Daud harus menempatkan dirinya sebagai hakim yang menjaga jarak dari dorongan emosi. Ia raja yang disertai karamah—gunung-gunung bertasbih bersamanya—namun tetap manusia yang bisa dipengaruhi kejutan dan simpati spontan.
Di sisi lain, para mufasir modern seperti Rashid Rida hingga Sayyid Qutb menolak kisah-kisah Israiliyat yang menuduh Daud menginginkan istri seorang tentara, sebuah narasi yang merendahkan martabat para nabi. Qutb menyebut rangkaian ayat ini sebagai koreksi metodologis, bukan skandal moral. Daud ditegur bukan karena maksiat, tetapi karena kurangnya ketelitian pada sebuah momen genting.
Qardhawi melihat bahwa sujud dan istighfar Daud bukan ungkapan rasa bersalah seorang pendosa, melainkan respons spiritual seorang pemimpin yang sadar betapa besar amanah untuk berlaku adil. Doa itu sekaligus bentuk pemurnian diri dari hawa nafsu yang mungkin menyusup melalui emosi sesaat.
Teguran itu ditutup dengan perintah tegas dari Allah:
يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوىPesan yang terasa relevan bahkan dalam konteks kontemporer: kekuasaan memerlukan kejernihan, dan kebenaran menuntut kesabaran mendengar.
Al Quran lalu mengembalikan Daud pada maqam kemuliaannya:
وإن له عندنا لزلفى وحسن مآبSebuah pengingat bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan jaminan bebas dari ujian, justru menjadi alasan untuk diuji lebih jernih.
Kisah Daud ini, menghadirkan pertemuan antara spiritualitas dan etika publik. Ia membentangkan dilema klasik para pemimpin: kecepatan mengambil keputusan bisa menghemat waktu, tetapi dapat mengorbankan keadilan. Daud, seorang nabi sekaligus raja, dipaksa mundur selangkah agar dapat melangkah lebih lurus.
(mif)