Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Ketukan Pertama dari Manusia: Menggambarkan Jarak antara Manusia dan Tuhannya

miftah yusufpati Jum'at, 05 Desember 2025 - 05:15 WIB
Ketukan Pertama dari Manusia: Menggambarkan Jarak antara Manusia dan Tuhannya
Seperti dalam kisah tasawuf klasik, upaya kecil manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia disambut oleh energi moral yang mendekat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah riwayat ringkas dalam Musnad Ahmad, Nabi menyampaikan sabda Tuhan yang terasa lebih dekat ketimbang nasihat kebanyakan ulama: Wahai anak Adam, bangunlah kepada-Ku niscaya Aku berjalan kepadamu; berjalanlah kepada-Ku niscaya Aku datang kepadamu dengan berlari. Kalimat pendek yang, dalam tradisi Islam, dibaca sebagai hadis qudsi—suatu bentuk komunikasi Ilahi yang menjelaskan relasi transenden antara Tuhan dan manusia.

Maknanya tampak sederhana. Namun bagi para pemikir Islam klasik dan kontemporer, hadis ini justru adalah gambaran paling padat tentang prinsip upaya dan balasan, atau dalam istilah teolog al-Ghazali, hukum timbal-balik spiritual. Relasi Tuhan dan manusia bukan kaku, bukan seremonial, dan bukan pula transaksional, melainkan responsif.

Hadis ini memakai metafora gerak: bangun, berjalan, berlari. Para mufasir hadis menegaskan bahwa semua gerak Tuhan dalam teks tersebut bersifat majazi, metaforis. Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa larinya Tuhan bukan gerakan fisik, tetapi gambaran tentang percepatan rahmat, penyambutan, dan kedekatan. Dalam kajian akademisi Joseph E. B. Lumbard, metafora dalam hadis-hadis qudsi kerap digunakan untuk menegaskan dinamika spiritual dalam pengalaman keagamaan Islam: Tuhan merespons sejauh keinginan hamba.

Di tingkat etis, hadis ini mengandung kritik halus terhadap fatalisme. Ia membantah anggapan bahwa kedekatan spiritual hanya monopoli orang suci, atau bahwa manusia tinggal menunggu takdir. Tanggung jawab moral dimulai dari langkah pertama manusia: bangun. Dalam penjelasan Ibn Rajab al-Hanbali, bangun berarti kesadaran; berjalan berarti konsistensi; dan berlari Tuhan adalah kemurahan yang berlipat.

Jika dibaca lewat kacamata filsafat keberagamaan, seperti yang pernah ditulis Fazlur Rahman, teks ini membentuk pola religius yang aktif: manusia sebagai subjek moral yang berinisiatif, bukan obyek pasif yang digiring oleh keadaan.

Di ruang modern, makna hadis ini terasa relevan bagi orang-orang yang merasa jauh dari agama. Dalam banyak wawancara penelitian sosiologi agama—termasuk riset Charles Kurzman mengenai Muslim urban modern—banyak orang menyebut kegagalan mereka bukan karena tidak percaya, tetapi karena merasa malu untuk memulai. Hadis ini meruntuhkan jarak psikologis itu: Tuhan tidak menunggu sempurna, hanya menunggu langkah pertama.

Di tingkat kolektif, pesan hadis qudsi tersebut bisa dibaca ulang sebagai prinsip perubahan sosial. Banyak ulama kontemporer mengutipnya ketika berbicara tentang reformasi moral. Bahwa perubahan besar bukan dimulai dari massa, tetapi dari sedikit kehendak manusia. Sebuah dorongan yang, menurut hadis, akan dipercepat oleh gerak Ilahi yang jauh lebih besar.

Seperti dalam kisah tasawuf klasik, upaya kecil manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia disambut oleh energi moral yang mendekat. Dalam citra berlari itu, agama seakan mengatakan: Tuhan tidak pernah tinggal diam. Yang menentukan jarak justru langkah pertama manusia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)