LANGIT7.ID-Pada suatu majelis di Madinah, Abu Hurairah meriwayatkan sabda Nabi yang terdengar mengguncang batas-batas keyakinan umum: Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, jika manusia tidak berbuat dosa, Allah akan mengganti mereka dengan makhluk lain yang berdosa, lalu memohon ampun, dan Dia mengampuni mereka. Hadis ini tercantum dalam Sahih Muslim, salah satu kumpulan hadis paling otoritatif dalam tradisi Islam.
Pernyataan itu seolah memotong gagasan bahwa keberagamaan adalah upaya menjadi tanpa cela. Justru sebaliknya: hadis ini menempatkan pengampunan sebagai pusat relasi manusia dengan Tuhan. Allah disebut Al Ghaffaar, Maha Pengampun, dan nama itu hanya bermakna jika manusia adalah makhluk yang jatuh, lalu bangkit, lalu jatuh lagi, lalu kembali.
Dalam literatur klasik, ucapan ini tidak pernah dibaca sebagai pembenar dosa. An-Nawawi, dalam syarah Sahih Muslim, menyebutnya sebagai penjelasan teologis bahwa manusia memiliki natur yang lemah, dan bahwa kembalinya mereka kepada Tuhan adalah bagian dari pola besar penciptaan. Ibn Taymiyyah menyebutnya manifestasi kasih sayang Ilahi yang mendahului hukuman, bukan ajakan meremehkan dosa.
Al-Ghazali bahkan memetakan struktur batin yang dibangun hadis ini. Dalam Ihya Ulumiddin, ia menulis bahwa keberdosaan membuat manusia merasakan kerendahan hati yang tak dimiliki malaikat. Rendah hati itulah yang membuka pintu ma'rifah, kedekatan spiritual yang tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari pengakuan atas ketidaksempurnaan.
Sejumlah peneliti modern mencoba menghubungkan hadis ini dengan psikologi moral. Menurut ahli psikologi seperti June Tangney yang meneliti rasa bersalah dan rasa malu, ruang untuk memaafkan diri sendiri dan bangkit setelah kesalahan adalah salah satu faktor penting yang membuat manusia terus berkembang. Tradisi Islam, lewat hadis ini, tampak memberi fondasi spiritual bagi mekanisme psikologis itu: harapan tidak pernah putus selama seseorang bersedia kembali.
Tetapi hadis ini juga menyingkap sisi lain: budaya keagamaan yang sering menekan manusia dengan rasa bersalah yang membuat mereka menjauh dari Tuhan. Beberapa ceramah publik menonjolkan ancaman lebih daripada rahmat, menciptakan umat yang takut, bukan yang dekat. Sabda Nabi ini datang sebagai koreksi: rahmat harus mendahului murka, seperti dinyatakan dalam hadis qudsi yang banyak dibahas ulama seperti Al-Bayhaqi.
Ayat dalam surah Az-Zumar ayat 53 seakan menjadi penutup yang menguatkan sabda tadi: Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Dalam Tafsir al-Tabari, ayat ini disebut sebagai seruan paling luas pintu pengampunan dalam Al-Qur’an. Siapa pun yang melampaui batas, tetap punya jalan pulang.
Hadis ini, pada akhirnya, mengajak umat memandang dosa sebagai bukit yang harus dilewati, bukan jurang yang menelan. Ia menawarkan wajah agama yang mengerti dinamika manusia, bukan mengadili. Bahwa perjalanan spiritual bukan didesain untuk kesempurnaan, tetapi untuk kembali. Berulang-ulang, selama napas masih ada.
(mif)