Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Ketika Waktu Menjadi Ruang Pertobatan

miftah yusufpati Jum'at, 05 Desember 2025 - 18:53 WIB
Ketika Waktu Menjadi Ruang Pertobatan
Kebaikan itu seperti cahaya yang memasuki kegelapan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di serambi masjid Madinah, seorang lelaki mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang mewakili kegelisahan banyak orang: apakah ayat tentang kebaikan yang menghapus keburukan hanya berlaku untuk satu kasus, atau untuk seluruh manusia? Jawaban Rasulullah datang tegas: untuk semua manusia. Jawaban singkat, tetapi mengandung satu gagasan besar—bahwa waktu, dalam pandangan Islam, bukan sekadar arus yang lewat, tetapi ruang kerja bagi perubahan moral.

Hadis-hadis yang diriwayatkan Thabrani, Ahmad, dan Muslim ini menyajikan dua gambaran: pertama, manusia diberi kesempatan seluas sisa hidupnya untuk memperbaiki diri. Kedua, kebaikan bukan hanya pahala abstrak, tetapi tenaga yang bekerja secara aktif terhadap catatan moral seseorang. Dalam istilah Al-Qur’an: sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus perbuatan buruk.

Dalam kajian teologi klasik, terutama sebagaimana dikembangkan oleh al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, kebaikan dipandang seperti cahaya yang memasuki kegelapan. Sebuah tindakan positif—sedekah, doa, memaafkan, menolong—tidak berhenti pada momen perbuatannya, tetapi menembus masa lalu seseorang, melarutkan noda-noda moral yang telah lebih dulu tercatat. Perspektif ini sejajar dengan hadis Abu Dzar: barangsiapa memperbaiki usia tersisanya, dosa-dosa lampau ikut dibersihkan.

Di sinilah konsep waktu berubah makna. Bukan garis lurus yang dingin, tetapi ruang yang lentur. Menurut Fazlur Rahman, dalam studinya tentang etika Islam, hubungan antara masa lalu dan masa depan tidak linier: masa depan yang baik dapat memperbaiki makna masa lalu. Gagasan etis ini tampak jelas dalam hadis Uqbah bin Amir tentang baju besi yang mengencang.

Baju besi itu—metafora yang kuat—adalah penyesalan, dosa, kebiasaan buruk yang memerangkap seseorang. Setiap kali ia berbuat baik, satu kait baju besi terbuka. Dengan kebaikan berikutnya, ia makin longgar. Dan pada akhirnya, manusia itu benar-benar bebas. Hadis itu seakan mengajukan tesis bahwa perubahan moral bukan sekali jadi, tetapi latihan bertahap yang melepaskan seseorang dari jerat masa lalu.

Di kalangan mufasir awal, seperti al-Tabari dan al-Qurtubi, ayat Hud 114 dipahami sebagai pengakuan Al-Qur’an bahwa manusia tak mungkin steril dari kesalahan. Yang dituntut bukan kesempurnaan, tetapi kontinuitas perbaikan. Kebaikan menjadi semacam koreksi berulang, seperti yang disebut al-Qurtubi, pelarut moral yang bekerja secara kumulatif.

Dalam riset kontemporer, Jonathan Brown menekankan bahwa hadis-hadis tentang penghapusan dosa melalui kebaikan ini berfungsi sebagai jembatan antara keadilan dan rahmat. Islam, ujarnya, tidak melepaskan manusia dari tanggung jawab, tetapi juga tidak membiarkannya ditentukan oleh kesalahan paling gelap dalam hidupnya. Selalu ada ruang bagi kebaikan baru untuk memproduksi makna baru.

Bagi masyarakat Muslim awal, yang hidup dalam kondisi sosial-politik berubah cepat, ajaran semacam ini menjadi instrumen stabilisasi spiritual. Warga yang pernah terlibat perang, konflik, atau kesalahan moral diberi narasi resmi bahwa mereka tidak terkutuk selamanya. Selama masih bernapas, masih ada ruang kerja bagi pertobatan.

Di sinilah hadis Abu Dzar dan Uqbah bin Amir menemukan relevansinya di masa kini. Ketika banyak orang hidup di bawah tekanan kesalahan masa lalu—baik dalam bentuk rekam digital, memori sosial, maupun beban psikologis—Islam menawarkan pandangan berbeda: masa lalu bukan penjara, tetapi titik awal.

Bahwa kebaikan bisa menembus balik dan mengoreksi sejarah moral seseorang, adalah gagasan yang tak habis dibahas. Sebuah optimisme etis yang membuat manusia tidak menyerah pada catatan kelamnya.

Dan sebagaimana ditegaskan Nabi, itu bukan hanya untuk satu orang di masa lalu, tetapi untuk seluruh manusia. Sampai hari ini.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)