Berakhirnya Khalifah Utsman bin Affan: Tersebarnya Fitnah
Miftah yusufpati
Jum'at, 12 Desember 2025 - 05:45 WIB
Di tangan para agitator lokal, kebijakan itu diolah menjadi isu. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Kisah akhir kekhalifahan Utsman bin Affan, seperti ditulis Muhammad Husain Haekal dan ditegaskan kembali oleh para sejarawan klasik, bukan sekadar tragedi politik. Ia adalah gambaran bagaimana sebuah pusat kekuasaan dapat runtuh bukan karena musuh eksternal, tetapi oleh perpecahan internal yang lama dipendam lalu meledak ketika waktunya tiba. Dan di antara semua kota yang menjadi pemicu, Kufah adalah sumbu utamanya.
Kufah, kota garnisun yang dibangun Umar bin Khattab, berkembang cepat menjadi pusat sosial baru Arab-Irak. Penduduknya campuran: sahabat-sahabat senior, para penakluk, pendatang baru dari kabilah-kabilah pedalaman, serta komunitas urban yang terbiasa hidup bebas. Komposisi sosial semacam itu, sebagaimana juga dipotret oleh Hugh Kennedy, melahirkan masyarakat yang gelisah—mudah tersulut isu, cepat curiga, dan punya banyak tokoh lokal yang ingin tampil.
Di kota dengan dinamika seperti itu, setiap celah kebijakan bisa berubah menjadi bara.
Keluhan terhadap Sa'd bin Abi Waqqas terdengar keras. Walid bin Uqbah dituduh meminum khamar. Ketika Utsman mengirim Sa'id bin al-As sebagai gubernur baru, sang pejabat datang dengan khutbah yang jujur sekaligus suram: ia tidak menginginkan jabatan itu, katanya, karena bencana telah memperlihatkan wajahnya. Ia ingin memahami akar penyakit Kufah sebelum menentukan langkah.
Dan hasil penyelidikannya menguatkan kekhawatiran pusat: masyarakat Kufah retak, susunan sosialnya bergeser, dan kehormatan para tokoh lama tak lagi dihormati oleh generasi baru. Dalam laporan kepada Utsman, Sa'id menulis bahwa kota itu penuh pendatang, sementara para pemuka tak lagi diikuti.
Utsman menanggapi dengan arahan yang coba mengembalikan hirarki sosial awal Islam. Ia meminta Sa'id mendahulukan sahabat Nabi—para veteran penaklukan, para peletak fondasi kota itu—agar stabilitas sosial kembali. Prinsipnya sederhana: dengan menempatkan orang pada martabatnya, keadilan bisa ditegakkan.
Namun zaman telah bergerak, dan resep lama tak lagi manjur.
Kufah, kota garnisun yang dibangun Umar bin Khattab, berkembang cepat menjadi pusat sosial baru Arab-Irak. Penduduknya campuran: sahabat-sahabat senior, para penakluk, pendatang baru dari kabilah-kabilah pedalaman, serta komunitas urban yang terbiasa hidup bebas. Komposisi sosial semacam itu, sebagaimana juga dipotret oleh Hugh Kennedy, melahirkan masyarakat yang gelisah—mudah tersulut isu, cepat curiga, dan punya banyak tokoh lokal yang ingin tampil.
Di kota dengan dinamika seperti itu, setiap celah kebijakan bisa berubah menjadi bara.
Keluhan terhadap Sa'd bin Abi Waqqas terdengar keras. Walid bin Uqbah dituduh meminum khamar. Ketika Utsman mengirim Sa'id bin al-As sebagai gubernur baru, sang pejabat datang dengan khutbah yang jujur sekaligus suram: ia tidak menginginkan jabatan itu, katanya, karena bencana telah memperlihatkan wajahnya. Ia ingin memahami akar penyakit Kufah sebelum menentukan langkah.
Dan hasil penyelidikannya menguatkan kekhawatiran pusat: masyarakat Kufah retak, susunan sosialnya bergeser, dan kehormatan para tokoh lama tak lagi dihormati oleh generasi baru. Dalam laporan kepada Utsman, Sa'id menulis bahwa kota itu penuh pendatang, sementara para pemuka tak lagi diikuti.
Utsman menanggapi dengan arahan yang coba mengembalikan hirarki sosial awal Islam. Ia meminta Sa'id mendahulukan sahabat Nabi—para veteran penaklukan, para peletak fondasi kota itu—agar stabilitas sosial kembali. Prinsipnya sederhana: dengan menempatkan orang pada martabatnya, keadilan bisa ditegakkan.
Namun zaman telah bergerak, dan resep lama tak lagi manjur.