Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 05 Juni 2026
home masjid detail berita

Berakhirnya Khalifah Utsman bin Affan: Tersebarnya Fitnah

miftah yusufpati Jum'at, 12 Desember 2025 - 05:45 WIB
Berakhirnya Khalifah Utsman bin Affan: Tersebarnya Fitnah
Di tangan para agitator lokal, kebijakan itu diolah menjadi isu. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Kisah akhir kekhalifahan Utsman bin Affan, seperti ditulis Muhammad Husain Haekal dan ditegaskan kembali oleh para sejarawan klasik, bukan sekadar tragedi politik. Ia adalah gambaran bagaimana sebuah pusat kekuasaan dapat runtuh bukan karena musuh eksternal, tetapi oleh perpecahan internal yang lama dipendam lalu meledak ketika waktunya tiba. Dan di antara semua kota yang menjadi pemicu, Kufah adalah sumbu utamanya.

Kufah, kota garnisun yang dibangun Umar bin Khattab, berkembang cepat menjadi pusat sosial baru Arab-Irak. Penduduknya campuran: sahabat-sahabat senior, para penakluk, pendatang baru dari kabilah-kabilah pedalaman, serta komunitas urban yang terbiasa hidup bebas. Komposisi sosial semacam itu, sebagaimana juga dipotret oleh Hugh Kennedy, melahirkan masyarakat yang gelisah—mudah tersulut isu, cepat curiga, dan punya banyak tokoh lokal yang ingin tampil.

Di kota dengan dinamika seperti itu, setiap celah kebijakan bisa berubah menjadi bara.

Keluhan terhadap Sa'd bin Abi Waqqas terdengar keras. Walid bin Uqbah dituduh meminum khamar. Ketika Utsman mengirim Sa'id bin al-As sebagai gubernur baru, sang pejabat datang dengan khutbah yang jujur sekaligus suram: ia tidak menginginkan jabatan itu, katanya, karena bencana telah memperlihatkan wajahnya. Ia ingin memahami akar penyakit Kufah sebelum menentukan langkah.

Dan hasil penyelidikannya menguatkan kekhawatiran pusat: masyarakat Kufah retak, susunan sosialnya bergeser, dan kehormatan para tokoh lama tak lagi dihormati oleh generasi baru. Dalam laporan kepada Utsman, Sa'id menulis bahwa kota itu penuh pendatang, sementara para pemuka tak lagi diikuti.

Utsman menanggapi dengan arahan yang coba mengembalikan hirarki sosial awal Islam. Ia meminta Sa'id mendahulukan sahabat Nabi—para veteran penaklukan, para peletak fondasi kota itu—agar stabilitas sosial kembali. Prinsipnya sederhana: dengan menempatkan orang pada martabatnya, keadilan bisa ditegakkan.

Namun zaman telah bergerak, dan resep lama tak lagi manjur.

Bagi sebagian penduduk Kufah, instruksi itu dianggap favoritisme. Bagi kelompok lain, ia justru bukti bahwa Madinah tidak memahami kegelisahan mereka—kemiskinan sebagian warga, kesenjangan ekonomi, dan ketidaksukaan mereka terhadap pejabat yang dianggap jauh dari tradisi asketis Umar.

Di tangan para agitator lokal, kebijakan itu diolah menjadi isu. Dalam bahasa sumber-sumber sejarah, tersebarlah fitnah: cerita-cerita liar yang dilebihkan, dipelintir, bahkan diciptakan. Tabari mencatat bagaimana rumor tentang kebijakan pusat menyebar seperti api di padang rumput, diperkuat oleh ketegangan antarkabilah yang sejak awal menjadi penyakit bawaan Kufah.

Isu-isu dari Kufah tak berhenti di Kufah. Mereka menjalar cepat ke Basrah, Mesir, dan akhirnya ke Madinah. Para pemuda yang merasa suaranya tak didengar berangkat ke pusat kekhalifahan membawa daftar tuduhan—sebagian benar, sebagian tak berdasar. Perjalanan mereka menjadi iring-iringan politik yang mengerikan.

Di Madinah, rumah Khalifah Utsman dikepung. Sahabat-sahabat besar seperti Ali bin Abi Talib mencoba menengahi. Tetapi fitnah sudah terlanjur menyebar, mengunci semua pihak dalam kecurigaan. Sejarawan Wilferd Madelung mencatat bahwa pada tahap-tahap akhir itu, tak ada lagi ruang bagi rasionalitas; sentimentalisme politik telah menguasai massa.

Akhirnya, sejarah mencatat hari paling kelam: Utsman dibunuh di rumahnya, sedang membaca mushaf. Peristiwa itu bukan hanya akhir satu masa kekhalifahan, tetapi awal dari era fitnah besar—perpecahan internal yang memecah umat dalam waktu yang amat panjang.

Gejolak di Kufah memperlihatkan satu hal yang terus relevan dari masa ke masa: bahwa stabilitas negara sering retak bukan karena musuh di luar, melainkan oleh prasangka, kabar bohong, dan jurang komunikasi antara pusat dan daerah.

Di zaman Utsman, fitnah menghancurkan sebuah pemerintahan. Di zaman apa pun, ia tetap memiliki daya rusak yang sama.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 05 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)