Menelusuri Jejak Jalur Dakwah Pendiri Gontor di Palembang dan Sumbagsel
Ahmad zuhdi
Ahad, 10 Oktober 2021 - 18:05 WIB
Trimurti Gontor atau Tiga Pendiri Ponpes Modern Gontor (kiri) KH Ahmad Sahal, (tengah) KH Zainudin Fananie, (kanan) KH Imam Zarkasyi. Foto: Dok. Pondok Modern Darussalam Gontor
Kiai Haji (KH) Zainuddin Fananie yang berasal dari Desa Gontor, Ponorogo diangkat sebagai Konsul Muhammadiyah Sumatera Selatan dengan menempati kantor di Palembang. Pengangkatannya sebagai Konsul Muhammadiyah tersebut merupakan titik tolak kegemilangan karier Fananie muda.
Oleh: Muh Husain Sanusi
Pekan lalu di sela-sela mengunjungi ibunda saya yang sedang terbaring sakit di Palembang, saya bersama keluarga menyempatkan diri silaturrahmi ke sahabat karib satu angkatan di Pondok Modern Gontor, Kuntum Khairu Basya. Lama tak berjumpa ada banyak perubahan saya lihat dari sahabat karib saya ini. Semenjak lulus dari Gontor, Kuntum lebih dikenal sebagai seorang aktivis yang aktif di beberapa partai politik dan organisasi kepemudaan.
Namun, hari itu saya melihat Kuntum tidak lagi seperti politikus yang hidup di hingar bingar ibukota Jakarta. Kiai Kuntum lebih tepatnya saya ingin memanggilnya ketika itu. Memang telah lama saya melihat di akun medsosnya, Kiai Kuntum beberapa kali posting kegiatannya di Pesantren Al-Basya tepatnya di Payakabung, Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Baca Juga:Ketergantungan dan Ancaman Media Sosial
Penasaran saya pun terjawab setelah silaturrahmi. Saya menyaksikan Kiai Kuntum kini berjuang di jalur dakwah lewat sebuah pesantren yang dibangun bersama keluarga, berlokasi hanya 1 KM dari Kampus Baru Universitas Sriwijaya, Indralaya, yakni Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Sumatera Selatan.
Sambutannya begitu hangat, dari atas rumah kayu panggung khas rumah adat Sumatera Selatan saya dan keluarga disambut dengan senyuman merekah, dan tak lupa cipika-cipiki. Lama kami berbincang tentang banyak topik mulai dari trend konsep Lembaga Pendidikan Islam ideal di masa kini hingga topik konstalasi di percaturan panggung politik nasional.
Oleh: Muh Husain Sanusi
Pekan lalu di sela-sela mengunjungi ibunda saya yang sedang terbaring sakit di Palembang, saya bersama keluarga menyempatkan diri silaturrahmi ke sahabat karib satu angkatan di Pondok Modern Gontor, Kuntum Khairu Basya. Lama tak berjumpa ada banyak perubahan saya lihat dari sahabat karib saya ini. Semenjak lulus dari Gontor, Kuntum lebih dikenal sebagai seorang aktivis yang aktif di beberapa partai politik dan organisasi kepemudaan.
Namun, hari itu saya melihat Kuntum tidak lagi seperti politikus yang hidup di hingar bingar ibukota Jakarta. Kiai Kuntum lebih tepatnya saya ingin memanggilnya ketika itu. Memang telah lama saya melihat di akun medsosnya, Kiai Kuntum beberapa kali posting kegiatannya di Pesantren Al-Basya tepatnya di Payakabung, Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Baca Juga:Ketergantungan dan Ancaman Media Sosial
Penasaran saya pun terjawab setelah silaturrahmi. Saya menyaksikan Kiai Kuntum kini berjuang di jalur dakwah lewat sebuah pesantren yang dibangun bersama keluarga, berlokasi hanya 1 KM dari Kampus Baru Universitas Sriwijaya, Indralaya, yakni Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Sumatera Selatan.
Sambutannya begitu hangat, dari atas rumah kayu panggung khas rumah adat Sumatera Selatan saya dan keluarga disambut dengan senyuman merekah, dan tak lupa cipika-cipiki. Lama kami berbincang tentang banyak topik mulai dari trend konsep Lembaga Pendidikan Islam ideal di masa kini hingga topik konstalasi di percaturan panggung politik nasional.