home edukasi & pesantren

Hilangnya Momen Wisuda Kala Pandemi, Berdampak Secara Psikologis pada Remaja

Rabu, 14 Juli 2021 - 14:52 WIB
Momen wisuda atau kelulusan adalah salah satu momen bahagia bagi remaja (foto: langit7.id/istock)
Pandemi Covid-19 mempengaruhi kondisi psikologis para pelajar di Indonesia yang masuk kategori usia remaja, mulai dari siswa di sekolah umum maupun santri di pondok pesantren. Sejak Covid-19 mewabah di Tanah Air, mau tidak mau aktivitas sekolah dilakukan dari rumah secara daring. Tak terkecuali momen wisuda atau kelulusan. Mayoritas pelajar menerima kabar kelulusan melalui pesan singkat dari pihak sekolah. Ada pula yang menggelar kelulusan secara daring berbasis aplikasi meeting, seperti Zoom.

Kelulusan via daring itu tentu tidak diisi dengan momen perpisahan seperti sebelum pandemi. Misalnya berbagi suka-cita bersama kawan, berpamitan langsung kepada pendidik, tidak ada hari terakhir di kelas, upacara wisuda, apalagi perayaan kelulusan.

Psikiater Florida State University, Ludmila De Faria, menilai momen kelulusan merupakan masa-masa penting yang bisa berpengaruh pada kondisi emosional remaja. Menurutnya, budaya upacara kelulusan menjadi salah satu cara membimbing siswa menjalani tantangan hidup di kemudian hari. Momen berjalan di panggung menjadi tanda perpindahan episode kehidupan ke tingkatan selanjutnya.

“Para remaja berduka karena kehilangan kejadian penting yang seharusnya mereka lakukan saat ini dalam hidup mereka,” kata De Farida, dikutip dari laman Hellosehat, Rabu (14/7/2021).

De Farida menjelaskan, prinsip inti dalam psikologi perkembangan berpusat pada perbedaan-perbedaan kecil yang berdampak besar. Contoh prinsip tersebut adalah masa transisi para pelajar saat kelulusan. Para pelajar dihadapkan banyak pilihan masa depan, sehingga bersua dengan teman seperjuangan dan guru adalah hal penting dalam menentukan pilihan.

Masa transisi ibarat mengemudi di jalan licin. Seseorang akan gelisah tapi tidak bisa memegang kendali sepenuhnya. Sedikit kesalahan pada kemudi bisa memberi efek besar pada kestabilan mobil. Mobil bisa terpeleset atau kecelakaan. Perumpamaan itu pas menggambarkan kelulusan sekolah atau pesantren. Terlihat sepele tapi berdampak besar pada psikologis remaja.

“Ketika anak mudah melewatkan berbagai peristiwa penting ini seperti mereka dipaksa untuk mengambil sedikit langkah mundur atau tidak mengalami kemajuan, seperti yang diharapkan dalam tahap perkembangan,” tutur De Faria.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
psikologi remaja parenting muslim belajar daring
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya