LANGIT7.ID - Pandemi Covid-19 mempengaruhi kondisi psikologis para pelajar di Indonesia yang masuk kategori usia remaja, mulai dari siswa di sekolah umum maupun santri di pondok pesantren. Sejak Covid-19 mewabah di Tanah Air, mau tidak mau aktivitas sekolah dilakukan dari rumah secara daring. Tak terkecuali momen wisuda atau kelulusan. Mayoritas pelajar menerima kabar kelulusan melalui pesan singkat dari pihak sekolah. Ada pula yang menggelar kelulusan secara daring berbasis aplikasi
meeting, seperti Zoom.
Kelulusan via daring itu tentu tidak diisi dengan momen perpisahan seperti sebelum pandemi. Misalnya berbagi suka-cita bersama kawan, berpamitan langsung kepada pendidik, tidak ada hari terakhir di kelas, upacara wisuda, apalagi perayaan kelulusan.
Psikiater Florida State University, Ludmila De Faria, menilai momen kelulusan merupakan masa-masa penting yang bisa berpengaruh pada kondisi emosional remaja. Menurutnya, budaya upacara kelulusan menjadi salah satu cara membimbing siswa menjalani tantangan hidup di kemudian hari. Momen berjalan di panggung menjadi tanda perpindahan episode kehidupan ke tingkatan selanjutnya.
“Para remaja berduka karena kehilangan kejadian penting yang seharusnya mereka lakukan saat ini dalam hidup mereka,” kata De Farida, dikutip dari laman Hellosehat, Rabu (14/7/2021).
De Farida menjelaskan, prinsip inti dalam psikologi perkembangan berpusat pada perbedaan-perbedaan kecil yang berdampak besar. Contoh prinsip tersebut adalah masa transisi para pelajar saat kelulusan. Para pelajar dihadapkan banyak pilihan masa depan, sehingga bersua dengan teman seperjuangan dan guru adalah hal penting dalam menentukan pilihan.
Masa transisi ibarat mengemudi di jalan licin. Seseorang akan gelisah tapi tidak bisa memegang kendali sepenuhnya. Sedikit kesalahan pada kemudi bisa memberi efek besar pada kestabilan mobil. Mobil bisa terpeleset atau kecelakaan. Perumpamaan itu pas menggambarkan kelulusan sekolah atau pesantren. Terlihat sepele tapi berdampak besar pada psikologis remaja.
“Ketika anak mudah melewatkan berbagai peristiwa penting ini seperti mereka dipaksa untuk mengambil sedikit langkah mundur atau tidak mengalami kemajuan, seperti yang diharapkan dalam tahap perkembangan,” tutur De Faria.
Dukungan Psikologis Diperlukan Untuk Gantikan Momen KelulusanPelajar yang menyelesaikan tahun terakhir di sekolah dan melewati kelulusan pada masa pandemi harus berhati-hati dalam merespons kondisi. Menumbuhkan ketangguhan adalah hal terbaik untuk melewati kondisi saat ini.
Berikut adalah tips orang terdekat untuk remaja agar kondisi psikologis mereka tetap stabil:
1. Memahami Perasaan RemajaOrang tua dan keluarga besar berperan penting dalam hal ini. Keluarga besar harus memahami perasaan anak seperti memahami kesedihan dan kekecewaan karena upacara kelulusan dibatalkan. Pelajar yang tak mendapat dukungan dalam menghadapi kehidupan yang tidak bisa diprediksi bisa menjadi hal menakutkan.
“Dalam hal ini, orangtua bisa menjadi penenang dan teman diskusi,” ujar De faria.
2. Memperkuat komunikasi dengan teman seperjuanganPara pelajar perlu membangun hubungan sosial atau pertemanan yang dapat diandalkan dalam melalui masa pandemi. Tetap berhubungan sosial walau hanya melalui sambungan virtual dapat sangat membantu kesehatan emosional mereka. Komunikasi itu bisa membuat mereka tetap berpikir positif selama pandemi.
3. Membantu Menjaga Pikiran PositifBerpikir positif memang tidak bisa mengakhiri pandemi. Situasi tidak stabil saat ini bisa membuat pelajar cemas. Namun, pikiran positif dan realistis bisa membantu berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan. Rasa cemas adalah respons otak saat berada dalam tekanan. Namun respons itu bisa menimbulkan emosi negatif jika tidak dikelola dengan baik.
Ada berapa kiat untuk mengelola rasa takut dan cemas selama pandemi melalui pikiran positif. Kiat itu di antaranya; fokus dengan apa yang bisa dikendalikan, menyaring berita yang dibaca, mengelilingi diri dengan hal-hal yang menyenangkan, mengingat bahwa semua orang sedang berusaha, menjalani peran Anda untuk mengakhiri pandemic, dan membuat rencana untuk dilakukan setelah pandemi berakhir.
“ni akan membuat kita lebih kuat, karena terkadang kemampuan kita mengejutkan diri kita sendiri,” tutur De faria.
(jqf)